DUNIA HITAM GADIS
M
|
anusia diciptakan untuk saling berpasangan-pasangan. Tapi tidak dengan aku, aku Gadis. Aku adalah sosok manusia yang terlahir dengan keadaan yah, berkecukupan lebihlah. Tapi sayangnya aku anak yang sangat berberbeda jauh dari teman-teman ku. Aku anak tunggal dari pasangan suami istri, tapi aku broken home. Ayah Ibu ku bercerai dan memilih sama-sama menikah dengan orang lain. Mereka bercerai sejak aku berumur 5 tahun, setelah mereka bercerai aku pun memilih untuk tinggal denagn Ibu. Tapi nasib buruk mulai masuk lagi dikehidupan ku. Ibu menikah dengan bule belasteran australia . Dan Ayah entahlah mungkin hilang ditelan bumi atau bla, blla, bllaa, ...ya...ya...ya.... Rupanya Ibu lebih memilih ikut dengan bule itu dari pada aku anak kandungnya sendiri. Ya, nasib yang kurang menyenangkan, sejak kecil aku dirawat oleh baby sitter pribadiku, hingga sekarang. Hidup penuh dengan uang, uang dan uang tapi kurang kasih sayang membuat ku frustasi, membuatku ingin mati.
Malam sangat hening sambil duduk dikursi favoritku, ku tujukan mata pada panorama bintang-bintang yang cerianya berkelap-kelip sambil melamun. Dan terkejut oleh suara bibi Fini baby sitter pribadiku waktu kecil.
“Non, ada telepon dari nyonya untuk non Gadis...?”
Suara halus bibi Fini sambil menundukan kepala,
“Oh, makasih ya bi...” gumamku,
“Iya non sama-sama”
Sahutnya sambil pergi mejauh.
“Hallo, ???” sahut Mami,
“Iya Mam, ada apa ...?” jawabku denga nada cuek.
“Dis, Mami minta maaf tidak bisa pulang ke Indonesia soalnya disini sedang banyak kesibukan mengurus sebagian perusahaan Papi mu, sekali lagi Mami minta maaf kamu pahamkan ...?”
Jelas Mami,
“Oh, iya Mam aku gak apa-apa. Lagi pula disini aku tidak merasa kesepian. Sudahlah Mam, aku capek ngantuk, malam Mam ?”
Tut...tuutt...ttuut...
Suara telepon yang aku matikan.
Aku beranjak pergi meninggalkan teras dan masuk kekamar membaringkan tubuh hingga terlelap.
***
Krriiinnng.....
Jam beker ku berbunyi menandakan hari sudah pagi dan aku bergegas bangun untuk mempersiapkan sekolah. Setibanya aku diruang tengah bibi Fini telah mempersiapkan makan pagi untukku.
“Non, makan dulu ?”
Bibi Fini menyapa ku.
“Tidak bi, aku makan diluar saja. Lagian ini sudah hampir siang nanti aku terlambat ?”
Sahut ku dengan wajah muram sambil meninggalkan ruang tengah dan pergi menuju mobilku yang telah terparkir rapil. Tanpa pamit aku pun meninggalkan rumah, menyetir mobil sambil mendengarkan musik-musik penghilang galau ku semalam. Setibanya disekolah pelajaran yang diberikan jam demi jam membuatku semakin tambah muak. Hingga jam pulang pun telah berbunyi. Sambil berjalan menuju parkiran mobil, handphone ku berdering menandakan kalau ada 1 pesan BBM dari Mami.
“Gadis sayang, sehabis pulang sekolah jangan keluyuran ya. Kasihan bibi Fini dan jangan lupa seperti biasa kamu harus les Biola dengan tante Vero. Ok sayang... Mami sayang kamu...” Isi pesan BBM dari Mami.
Cetus ku dengan cuek tidak menanggapi pesan dari Mami. Aku pergi beranjakmenuju mall ternama, sesampainya disana aku berganti baju di toilet dan selesai akupun pergi berjalan-jalan, duduk di caffe sambil menikmati secangkir jus alpukat kesuksaan ku sendirian.
“Uh... hari-hari yang sangat membosankan, dari kecil sampai umurku 17 tahun dan telah duduk dikelas 2 SMA tidak ada yang memberikan perhatian lebih untukku. Gadis apakah kau tidak muak dengan dengan kelakuan orang tuamu”.
Ucapku dalam hati.
Blackberry ku pun berbunyi mengagetkan lamunankku...
Lagi –lagi 1 pesan BBM dari Mami.
“Gadis kamu dimana..?”
“Mami bisa tidak, untuk tidak mencampuri urusanku. Aku ini sudah besar, lagi pula aku bosan karena sejak kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari kalian, sudahlah aku muak diatur-atur”. Balas ku dengan kesal,
BBM singkat yang ku send pada Mami dengan perasaan jengkel. Dan kembali kutelpon bibi Fini.
“Hallo, bi aku gak pulang. Aku ada tugas dan tolong samapikan pada mami kalau aku menginap dirumah teman. Makasih.....”.
Ku sampaikan dengan suara yang super cuek, tanpa mendengar tanggapan balik dari bibi Fini.
Aku pun pergi dari caffe itu dan kembali kemobil sambil mengusap air mata yang berlinang karena menangis kesal. Handphone sengaja ku matikan agar tidak ada orang yang menggangu hidupku untuk hari ini. Jam tangan menunjukan pukul 9 malam, ku arahkan mobil menuju kesebuah club malam. Dimana aku sering melampiaskan keragun hidup dengan minuman-minuman dan alunan musik dj di club malam itu. Sampai aku bisa melupakan perihnya luka hati yang kualami. Yang kurasakan ditempat itu adalah tenang dan lupa akan sakitnya batinku.
***
Jam sudah menunjukan pukul 1. Tubuh terasa lemas, mual dan pusing. Entah berapa botol minuman yang kuteguk. Aku terlelap disebuah ruangan dengan sendirian. Yang ku rasa saat itu adalah tidur, pingsan atau apalah intinya mata ini terpejam erat.
Kurasakan sebuah kehangatan yang mencoba untuk melucutiku. Mencoba menerobos, mencari ruang dalam rapatnya busanaku. Serasa ada nafas yang hangat bergulir dileherku dan remasan-remasan nikmat yang membawaku jatuh dalam dunia gelap. Ingin rasa memberontak tapi tak kuat, tak berdaya, lemah dan seperti diracuni oleh sosok bejat yang entah dari mana datangnya. Atau memang karena minuman yang tlah aku minum. Yang akupun tak tau berapa banyak
Aku terbangaun, dan terkejut melihat apa yang telah menimpaku saat itu. Air mata terus berlinangan ketika aku mendapati sepucuk surat dari lelaki tak ku kenal.
“Gadis sayang, malam ini sangat indah. Terimakasih telah memberikan aku kesempatan untuk bercumbu mesra dengan mu, sorry.Hahahaha.....”
Tertanda ######
Surat tanpa nama itu semakin membuat ku frustasi, aku ingin mati, aku benci hidup ini. Dengan keadaan tak karuan serta rasa sakit, akupun bergegas pergi meninggalkan club malam itu. Dengan langkahku yang terseok-seok tanpa ada yang peduli padaku. Aku menuju mobil dan beranjak pulang. Sempat ku berfikir mengapa tidak ku terobos pembatas jalan dan terjun ke jurang. Tapi tidak, aku sadar dengan keadaanku yang seperti ini lambat launpun ak pasti akan mati.
***
Jam menunjukkan pukul 6 pagi, sesampainya dirumah bibi Fini menanyakan keadaanku yang terlihat agak kacau.
“Non, non kenapa ?”
Tanya bibi Fini dengan perasaan cemas.
Akupun segera beranjak dan meninggalkan bibi Fini yang membukakan ku pintu tanpa menjawab pertanyaanya. Setibanya dikamar aku segera kekamar mandi untuk membersihkan diri sambil menangis penuh kecewa. Beranjak dari kamar mandi dan berganti pakain, akupun menghempaskan tubuh keranjang dengan air mata yang terus mengalir hingga akhirnya aku terlelap karena lelah.
“Tok..tokk..tokk...non makan siang non”.
Suara bibi Fini yang terdengar dari balik pintu kamarku.
“Tidak bi, aku tidak lapar”.
Sahutku sambil menutupi wajah dengan bantal.
Lagi-lagi terdengar suara BBM masuk. Aku pikir itu pasti dari Mami yang memerintahkanku untuk langsung pulang setelah sekolah. Tapi ternyata dari Lala, teman sekolahku.
“Dis, kenapa gak masuk. Hari ini ada ulangan bahasa inggris...?”.
Jelas Lala.
“Aku sedang tidak enak badan La, tolong izinkan aku ya...?”.
Balasku menanggapi BBM Lala.
Seperti biasa, hariku tak bermakna. Satu jam, dua jam, dan jam demi jam terus bergulir tanpa makna.
***
Hari mulai beralih menjadi malam dan akupun merasa sangat kecewa.
“Aku hina, aku kotor dan aku menjijikan”.
Hanya kata-kata itulah yang terus aku ucapkan disudut kamar sambil menangis.
Semakin hari waktu semakin berganti. Sampai suatu hari aku merasa sangat mual dan pusing. Aku berlari menuju kekamar mandi dengan perasaan tak karuan.
“Apakah aku hamil ?,,”
Gumamku takut.
Aku berfikir dosa apa yang telah aku lakukan sampai aku harus mengalami semua ini.
Keesokan harinya kuberanikan diri untuk pergi kesebuah apotek dengan tujuan membeli alat tes kehamilan. Dan segera kembali kerumah, dengan cemas aku masuk kekamar mandi. Apa yang ku khawatirkan ternyata benar. Alat tes itu menujukan bahwa aku positif hamil. Tubuh ini langsung lemas dan air mata berlinang deras, menyesal dan kecewa menjadi satu.
“Tuhan, aku hamil, aku hina, aku menjijikan dan kotor”.
Ucapku dengan penuh kekecewaan.
Aku sudah tidak tau berapa banyak air mata ini aku cucurkan, tapi sama sekali tak dapat mengobati rasa yang kurasakan. Bahkan aku sendiripun tak tahu apa yang ku rasakan, apakah itu kecewa, sedih, frustasi, marah, atau apalah. Semua menjadi satu.
Entah dari mana datangnya sebuah fikiran gila, aku mencoba untuk menggugurkan bayi tak berdosa ini tapi tak pernah bisa aku lakukan. Aku putus asa. Ku tulis sepucuk surat untuk ibu yang berisi :
“Mam, Gadis minta maaf, mungkin Gadis telah mengecewakan banyak orang termasuk Mami, Gadis hina dan tak pantas menjadi anak mami. Gadis hamil dan entah bagaimana Gadis harus menanganinya mungkin ini terakhir kalinya Gadis curhat dengan Mami. Mami sering jenguk Gadis ya dirumah baru, karena dengan cara inilah Gadis bisa tenang, Gadis sangat sayang mami, I love U mom...”.
Isi surat terahir yang kutulis untuk Mami dan ku taruh di meja belajar.
Dengan penuh rasa menyesal aku meneguk berbagai macam obat hingga akhirnya aku overdosis. Hingga akhirnya aku koma dan di bawa ke sebuah rumah sakit. Aku tak tahu siapa yang membawaku, bahkan aku mengira kalau aku sudah mati. Setengah sadar aku mendengar suara yang asing bagiku tapi aku hafal suara itu, kucoba untuk membuka mata, ku lihat Ibu dan Ayah menangis di samping ku.
“Dis, maafkan Ayah dan Ibu yang telah menyia-nyiakanmu. Ibu menyesal, Ibu menyesal tak memberikan mu kasih sayang dan perhatian lebih untuk mu sejak kecil”.
Teriak ibu sambil menangis disampingku dan menggenggam tangan ku.
Aku hanya dapat berkata,
“Semua telah terlambat aku harus berakhir disini. Ayah, Ibu, melihat kalian untuk terakhir kalinya sudah membuat ku cukup bahagia, maafkan aku selama ini”.
Itulah kata-kata terakhir yang aku sampaikan dengan lirih dan dengan susah payah menahan sakit. Sebelum akhirnya aku pergi. Menghilang dan takkan mungkin untuk kembali.
Hilang untuk selamanya.
Disinilah aku sekarang, jauh dari orang-orang yang ku sayang. Berada didunia baruku.
Duniaku yang sepi, sendiri, dan gelap. Tapi satu hal yang sudah biasa bagiku yaitu jauh dari Ayah dan Ibu.
Selamat tinggal semua. Aku lebih baik disini.
***TAMAT***
***
Ade Riski Yanti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.