Ekspresi Penuh Warna
Kamis, 02 Agustus 2012
Selasa, 27 Maret 2012
TASBIH SALMA
“Dengar Salma, Abi tak suka melihat kau berhubungan dengan
laki-laki. Kau belum mengerti tentang dunia luar, Abi tak suka dengan Fuzan dia
itu pencuri. Ingat salma jika sekali lagi kau menemuinya, maka Abi akan
memasung mu digudang”,
Suara keras ayah yang memarahiku,
“Tidak Abi, Fauzan bukan pencuri. Fauzan difitnah”,
Aku mencoba menjelaskan,
“Tidak, Fauzan itu pencuri selama ini ia adalah pembohong
besar”.
Abi semakin memerahiku.
Umi memelukku sambil menangis, ini semua adalah kesalahanku. Karena
aku telah lancang bertemu dengan laki-laki yang tak abi sukai. Yah, dia adalah
Fauzan penjual susu kedelai dipasar ijabah kota mesir. Jujur saja Fauzan adalah
seorang pemuda tangguh, gigih dan berhati mulia, aku menyukainyadan ia pun
menyukai ku. Tapi sayang abi tak menyetujui hubungan kami. Sebenarnya dulu Abi
sangatlah akrab dengan Fauzan, tapi karena ada orang yang tak suka melihat Abi
dan Fauzan akrab, sehingga orang itu tega memfitnah Fuzan sebagai pencuri. Dari
situlah Abi sangat membenci Fauzan.
Mungkin ini
pertengkaran ku dengan Abi yang bukan untuk pertama kali. Sudah berulang-ulang
aku mencoba menjelaskan tentang perbuatan Fauza yang sebenarnya. Tetap saja Abi
tidak mempercayai penjelasanku. Sebenarnya aku tahu siapa orang yang sengaja
memfithan Fauzan, orang itu adalah Amir. Amir adalah orang yang sangat
menyukaiku, berulang-ulang ia mengajakku menikah tapi selalu saja ajakkan itu
kotolak, karena Amir adalah orang yang sombong serta serakah.
Aku amatlah paham
kenapa Amir sengaja memfitnah Fauzan, agar Abi memilihnya sebagi menantu.
Semenjak itulah aku hanya bertemu diam-diam dengan Fauzan. Aku sering mengurung
diri dikamar, akrena tak iangan melihat wajah Abi yang tak mau mempercayai
anaknya sendiri.
“Salma, ayo makan malam...?”
Umi mengetuk pintuku dan menyuruh ku untuk makan malam bersama,
“Iya Umi”.
Aku menjawab ajakan dari Umi.
Duduk dikursi ruang
makan, aku hanya berdiam tanpa melirik kearah Abi. Selama makan aku hanya
meujukan mata ke Umi dan akhirnya Abi membuka topik pembicaraan.
“Salma, sudahlah lupakan saja Fauzan. Ia itu hanyalah seorang
penipu, tak pantas menjadi menantu Abi dan Umi, yang pantas menjadi suami mu
itu adalah Amir. Amir itu kaya, baik dan bukanlah seorang penipu ataupun
pencuri...?”
Abi mencoba menjelaskan.
Sedikitpun aku hanya berdiam dan tak menjawab keinginan Abi
untuk menjadikan Amir sebagai menantunya.
Setelah selesai makan
akupun pergi kekamar, menangis dan meronta-ronta. Tak lama kemudian terdengar
suara Umi yang berbisik dari luar pintu tanpa mengetuk. Ku buka dan lekas ku
suruh masuk.
“Salma sayang, Umi mengerti perasaan mu. Tapi Umi tak berani
untuk membela mu,Umi yakin kalau Fauzan bukanlah pencuri dia adalah pemuda yang
sopan serta ramah dan Umi juga tahu siapa biang dari semua ini. Sabarlah nak,
Abi mu berbuat seperti itu karena ia sangat menyayangimu. Kamu adalah anak
satu-satunya, jadi hal itulah yang membuatnya kalap mata. Tapi Umi yakin Tuhan
itu maha melihat bersabarlah nak”,
Umi mencoba meyakinkan ku, seakan-akan ia mengerti tentang
kondisiku,
“Iya Umi, terimakasih atas pengertian Umi. Salma paham kenapa
Abi memperlakukan ku seperti itu”,
Aku menjawab pembicaraan Umi,
“Tidurlah nak, hari sudah sangat malam. Umi menyangi mu nak”.
Umi menyelimuti ku dengan penuh kasih sayang dan pergi dari
kamarku.
Hari telah berganti
menjadi pagi, suara keramaian orang-orang telah terdengar. Karena ini adalah
hari libur akupun bergegas bangun dan menuju ke arah Umi yang sedang asik
meracik bumbu-bumbu untuk sarapan pagi.
“Selamat pagi Umi...?”
Aku menyapanya,
“Selamt pagi juga Salma ku sayang, baru bangun lekas mandi dulu
sana setelah itu bentu Umi memotong-motong sayur...?”
Umi menjawab sapaanku.
Tanpa banyak basa basi aku segera menuruti
kemauanya itu, selesai mandi aku pun membantu pekerjaannya. Dari memotong sayur,
membersihkan ikan, memasak dan menyiapkan makanan yang tertata dimeja makan.
“Salama, bangunkan Abi mu suruh dia lekas turun untuk
sarapan...?”
Umi menyuruhku,
“Tidak mau Umi, Umi saja yang membangunkanya...?”
Aku menjawab dengan dahi mengkerut,
“Yah, sudah biar Umi saja”
Jelas Umi.
Tak lama kemudian, Umi dan Abi mengahmiri meja makan. Kami
bertiga makan dengan penuh nikmat. Tapi tetap saja tingkah ku masih sama
seperti tadi malam, hanya berdiam.
“Salma, tiga hari lagi Amir akan melamarmu. Kamu harus siap Abi
tak mau tahu...?”
Abi mulai membuka topik tentu saja tentang si Amir.
Sontak saja perkataan Abi itu membuat ku dan Umi terkejut,
seketika nafsu makan ku hilang. Aku hanya menundukan kepala sambil meneteskan
air mata dan berlari dari ruang makan menuju kamar. Enatah apa yang ada
difikiran Abi tentang Amir.
Dikamar aku hanya
menangis menangis dan menangis. Aku tak tahu harus apa, rasanya aku ingin kabur
dari rumah. Tapi aku merasa kahsihan dengan Umi.
“Tokk, tokk, tokk... salma ini Umi, bolehkan Umi masuk...?”
Umi memanggilku dari balik pintu,
“Masuklah umi pintu tidak dikunci”
Aku menjawab panggilan itu.
“Salama anakku,Umi sangatlah paham dengan perasaan mu saat ini.
Umi sudah mencoba menjelaskan tapi yang Umi dapati adalah kemarahan dari Abi.
Anakku, sabarlah...?”
Umi mencoba menjelaskan dengan penuh derai air mata,
“Umi tak perlu membelaku didepan Abi, biarkan saja aku yang akan
berusaha menjelaskan ini semua. Umi tinggalkanlah dulu aku sendirian”.
Aku juga mencoba menjelaskan maksudku pada Umi dan memintanya
untuk membiarkan ku tenang.
Hari demi hari telah
berganti, tiba saatnya Amir datang untuk melamarku.
“Salma, kau harus menerima lamaran Amir. Abi tak mau tahu”
Abi memaksaku dengan nada keras.
Aku hanya berdiam dan tak lama kemudian Amir dan orang tuanya
datang untuk melamarku. Umi dan Abi menyambut kedatangan mereka, dipersilahkan
masuk. Aku tak tahu harus apa disaat itu, aku ingin menangis tapi hati berkata
“tidak sekarang aku meneteskan aor mata”.
Orang tua Amir memintaku menjawab apakah aku siap menjadi
menantu mereka. Aku hanya berdiam, belum saja aku menjawab pertanyaan mereka
Abi sudah berucap pada mereka.
“Salma sudah siap untuk menjadi pendamping Amir”,
Abi menjelaskan tentang perasaanku, walau itu bukanlah
penjelasan yang sebenarnya dari mulutku.
Hatiku terasa remuk, orang yang benar-benar aku cinta mencoba
memaksa ku untuk menjadi istrinya.
“Baiklah tiga hari lagi ijab kabul akan kami laksanakan, Salma
persiapkan dirimu”
Tambah dari orang tua Amir,
“Oh iya tentu saja, semakin cepat semakin baik”
Ujar Abi berkata dengan tawa bahagia.
Setelah mereka pergi
aku mencoba berteriak pada Abi.
“Abi, Abi keterlaluan. Abi meanggapku barang, seenaknya saja Abi
menyerahkan cintaku pada orang yang tak pernah aku cintai”
Aku menangis dan meluapkan amarah yang terpendam,
Abi menamparku,
“Apa kau berani menantangku, tidak Salma selama ini kau buta.
Fauzab itu bukan lelaki yang baik, dia itu keparat dan hanylah sampah”
Abi berbicara,
“Abi, ini anak kita. Ia punya masa depan dengan pilihannya, ia
sudah dewasa”
Umi memeluku dengan penuh air mata sambil membelaku,
“Kurang ajar kau mi, Kau berpihak pada Sampah itu”
Kemarahan Abi semakin tak terbendung,
“Tidak Abi, Fauzan bukan sampah dia pemuda yang aku cinta
kebahagiaanku ada bersamanya bukan pada Amir yang tidak pernah sama sekali aku
cinta”
Aku mecoba membela diri,
“Apa kau bilang, kebahagiaanmu ada bersamanya. Haha itu tak
mungkin Salma, tak mugkin pencuri dan sampah seperti dia mampu membahagiakan
mu. Sekali lagi Abi katakan, kau akan tetap menikah dengan Amir. Abi akan
mengurung mu digudang agar kamu sadar bahwa orang pilihan Abi tepat”
Abi tertawa jahat dan menyeret ku kegudang.
Umi hanya dapat
menangis dan meronta-ronta melihat perlakuan kejam abi padaku. Disinilah aku
sekarang, digudang yang kotor menakutkan dan gelap, aku mendengar suara dari
balik kaca yang telah berdebu. Aku mencoba mngintip dan suara itu adalah suara Gafar,
sahabat baikku dan Fauzan. Gafar mencoba menjelaskan padaku tenteng keadaan
Fauzan.
“Salma, ini aku Gafar...?”
Gafar mencoba meyakinkanku,
“Sedang apa kau disini...?”
Aku bertanya,
“Aku kesini ingin memberitahu tentang keadaan Fauzan. Salma aku
tahu kalau kau akan melaksanakan ijab kabul dengan Amir tiga hari lagi. Ada
berita baik tenteng itu, ikutilah ijab kabul itu. Aku dan Fauzan akan datang
membawa bukti-bukti tentang kelicikan Amir, aku tak sengaja merekam percakapan
Amir dengan salah satu pemuda. Yang isi dari percakap itu adalah, Amir membayar
orang menjadi pihak yang merasa kerampokan sehingga disaat itulah seakan-akan
Amir bisa menajatuhkan posisi Fauzan yang tinggal selangkah lagi bisa menjadi
menantu Abi mu. Ini tasbih untuk mu dari Fauzan, bertawakallah kamu pada Allah
dan mohonlah pertolongan. Insoallah aku akan membantumu”
Gafar mencoba menjelaskan tentang rencana yang akan ia buat.
Setelah mendengar
kabar itu perasaanku sangatlah tenang, ku habiskan waktu dengan berdo’a memohon
pertolongan pada Allah. Hingga akhirnya tiba saatnya aku melaksanakan ijab
kabul. Tanpa ada lagi perasaan takkaruan dan merasa sangat tenang. Dengan penuh
semangat aku menuju ke Arah Amir yang telah siap menjadikan ku istri yang salah
didepan, para saksi-saksi dan penghulu.
“Bagaimana para tamu, kita mulai saja ijab kabulnya”
Ujar penghulu.
“Bismillahirohmanirohim, saya nikahkan saudara Amirrudin Bin
Zafin dengan Salma Nurlya Binti Gozhali dengan mas kawin seperangakt alat solat
dibayar tunai”
Penghulu mendahului ijib kabul,
“Bismillahirohmanirohim, saya terima nikah dan kawinnya Salma
Nurlya Binti Gozhali dengan mas kawin seperangakt alat solat dibayar tunai”
Amir kembali mengulang kata-kata penghulu.
Aku mencoba tenang dan berdo’a dalam hati, “ya Allah tolonglah
hambamu ini”. Sebelum orang-orang menjawab sah yang diucapkan penghulu aku
mendengar suara dua orang pemuda berteriak “Tidak sah”. Aku sangat yakin bahwa
orang itu adalah Gafar dan Fauzan.
“Ada apa ini...?”
Abi terkejut,
“Maafkan saya tuan, lancang masuk keacara ijab kabul anak tuan.
Tapi dengarkan dulu pennjelasan saya tuamn. Saya kesini hanya ini membuktikan
bahwa saya bukanlah pencuri...?”
Fauzan mencoba menjelaskan perkara yang sebenarnya,
“Hei, Fauzan apa maksudmu...?”
Abi merasa bingung dengan penjelasan Fauzan,
“Dengarkanlah rekaman ini para tamu-tamu undangan”
Fauzan memutar isi percakapan itu didepan para tamu undangan.
“Apa, ternyata selama ini bukan Fauza yang menjadi orang picik.
Orang picik selama ini adalah dirimu Amir. Aku tidak menyetujui ijab kabu
ini...?”
Abi berteriak terkejut dan mencaci maki Amir ditambah teriakan
orang-orang yang muak atas kesomongannya itu.
Taklama kemudian, abi
meminta maaf padaku, pada umi dan pada Fauzan.
“Fauzan, maafkan kesalahan Abi yang pernah membenci mu. Maafkan
abi, kini abi sadar bahwa orang yang pantas membahagiakan Salma adalah dirimu
Fauzan”
Abi memeluk Fauzan dan meminta maaf,
“Abi, sudikan Abi menerima ku sebagi menantu”
Fauzan memohon restu pada Abi,
“Tentu saja nak Fauzan dengan senang hati abi menerimamu sebagi
menantu”
Abi menjawab permohonan itu.
Langsung saja ijab kabul kami laksanakan, akhirnya aku sah
menjadi istri Fauzan. Dan Amir aku tak
pernah tahu kemana ia dan orang tuanya sekarang berada mungkin mereka pindah
dari kota ini akibat malu dengan perbuatan mereka.
Aku hidup bahagia dan
telah dikaruniai seorang anak yang cantik rupanya, namanya Tamara nurrahma.
JJJ
***TAMAT***
Original Post by :
Ade Riski
Ade Riski
Senin, 06 Februari 2012
Cerpen
Gadis Berjilbab
Gadis
itu seakan-akan hilang ditelan bumi. Yang ku rasa saat itu adalah tersungkur
sakit, terpejam dan tak mampu untuk bangun. Yah, saat itu bus yang kutumpangi
melaju kearah tempat kerjaku tapi ditengah perjalanan aku beserta penumpang lainnya
terkena musibah. Bus yang ku tumpangi oleng dan menabrak pembatas jalan hingga
akhirnya masuk kejurang. Aku adalah salah satu korban yang selamat dalam
kecelakaan bus itu, tapi nasib naas belum berakhir aku harus menyandang cacat.
Kaki kiri ku patah dan harus diamputasi, entah siapa yang saat itu menolong dan
membawa ku kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.
Beberapa
jam kemudian, aku mencoba membuka mata. Walau tubuh masih sakit dan nyeri. Aku
terkejut karena disampingku ada seorang sosok yang sangat indah matanya, manis
senyumannya. Aku bingung dan bertanya-tanya dalam hati, apakah ini nyata atau
hanya mimpi belaka.
Malaikat
ini sungguh berhati mulia, wajahnya mempesona dan kepalanya ditutupi jilbab
yang membuatnya semakin sempurna. Aku memandangi wajahnya yang sedang asyik
membaca novel, hingga akhirnya ia menoleh ke arah ku.
“Sudah sadarkah kamu...?”
Sapanya dengan senyuman dan
nada suara yang ramah,
“Oh, iya. Siapa yang
membawa ku kesini...?”
Aku menjawab sambil
merintih kesakitaan,
“Tuhan mu lah yang
membawamu kesini, istirahatlah dulu karena kondisimu belum stabil. Aku akan
panggilkan suster untuk mengecek keadaan mu...?”
Dan lagi-lagi gadis itu
menjawab dengan senyuman dan tutur kata yang ramah sambil pergi menjauh dariku,
“Tunggu dulu... siapa nama
mu...?”
Aku bertanya pada gadis
itu.
Gadis itu tak menjawab
pertanyaan ku, ia hanya melemparkan senyuman dan pergi dari ruangan ku.
“Malaikat yang mempesona
dan misterius”,
Gumamku dalam hati sambil
tersenyum.
Gleekk,... suara pintu terbuka.
“Permisi tuan, bisa saya
cek dulu kodisinya...?”
Salah seorang suster
menyapaku,
“Iya, sus silahkan
masuk...?”
Aku mejawab sapaan suster
itu.
Sambil mengecek kondisi ku,
aku mencoba bertanya pada suster itu.
“Sus, siapa yang membawaku
kesini dan kenapa aku bisa berada dirumah sakit ini...?”
Aku bertanya dengan wajah
bingung,
“Gadis berjilbab tadi pak yang
membawa anda kesini. Anda adalah korban kecelakaan bus yang anda tumpangi tadi
pagi ”.
Suster itu mencoba
menjelaskan,
“Siapa nama gadis itu
sus...?”
Aku kembali bertanya,
“Gadis itu hanya berpesan
pada kami pak, kalau dia hanyalah seoarang hamba Tuhan yang ingin menaburkan
kebaikan. Baiklah sepertinya kondisi bapak sudah 75% membaik. Istirahatlah anda,
ini obat dan makan malamnya. Permisi...”,
Suster itu mejelaskan
sambil tersenyum, dan pergi meninggalkan ku yang sedang kebingungan.
Aku mencoba bangun, dan melihat-lihat disampingku. Aku
mendapati handphone, kucoba untuk meraih handphone yang berada dimeja dan
akhirnya aku berhasil meraihnya.tapi sayang, handphone itu sisa bangkai. Yah,
hancur tak berbentuk.
“Sialan, handphone mahal
ternyata bisa rusak”.
Gumamku dalam hati, kesal.
Ku toleh lagi kemeja itu,
dan kudapati buku yang dibaca oleh gadis misterius yang duduk disampingku tadi.
Mungkin ia lupa menaruh buku itu, sehingga tertinggal dimeja ruanganku.
“kidung cinta pohon kurma”,
Aku membaca judul novel
milik gadis misterius itu.
Ku lihat jam ternyata sudah
menunjukan pukul 9 malam, mata terasa ngantuk dan tubuh masih terasa sakit.
Mungkin karena reaksi obat yang diberi suster tadi sehingga aku pun terlelap
dengan nyenyak.
Malam telah berlalu dan sang surya kembali bersinar menyambut
pagi, mata yang kelat ini mencoba memaksa bangun. Lantas saja lagi-lagi ku
dapati gadis berjilbab itu duduk disampingku.
“Bagaimana keadaan mu...?”
Gadis itu menyambut pagi ku
dengan sapaan yang halus dan lembut,
“Sudah lumayan membaik,
bagaimana dengan keadaan mu...?”
Aku membalas sapaannya itu,
“Aku selalu dikaruniai
keadaan yang baik-baik saja...”
Gadis itu kembali menjelaskan
dengan singkat,
“Kenapa kamu tidak mau
memberi tahu siapa nama mu...?”
Aku bertanya dengan dahi
mengkerut,
“Kau tak perlu tau siapa
nama ku, aku hanya ingin tahu siapa nama mu...?”
Jelas gadis itu,
“Nama ku Akmal, kenapa aku
tak perlu tahu siapa namamu...?”
Aku kembali bertanya
sembari untuk mencoba bangun dari kasur,
“Tidak, kau akan mengerti
nanti. Kedatanganku pagi ini hanya ingin melihat keadaan mu dan mencari apakah
novel ku tertinggal disini...?”
Gadis itu menjawab,
“Aku tak tahu, novel mu yang mana...?”
Aku mencoba mebohonginya,
karena novelnya sengaja ku sembunyikan agar ia mau memberitahu siapa namanya,
“Novelku yang berjudul
Kidung Cinta Pohon Kurma. Tapi tak apalah mungkin aku lupa menaruhnya dimana.
Baiklah aku ingin keluar dulu mencarikan mu sarapan”.
Gadis itu meninggalkan ku.
Hatiku hanya merasa bahagia, karena Tuhan amatlah baik telah
menurunkan malaikat yang mulia dan mempesona. Senyumannya dan matanya tak dapat
ku lupakan walau pun ia adalah sosok yang misterius.
“Ini sarapannya, dimakan
dulu...”
Ia mengejutkan lamunanku,
“Yah, terimakasih. Kau
makhluk Tuhan yang indah...”
Aku mencoba merayunya,
namun tak ditanggapi olehnya.
“Aku ingin, mengabarkan
sesuatu padamu...”
Gadis itu berkata ingin
menceritakan sesuatu,
“Kabar apa ? hahaha,, kau
membuatku tegang..”
Aku berucap padanya,
“Dokter mengabarkan, kaki
kirimu patah dan harus segera diamputasi. Hal itu akan mengakibatkan kau cacat
Akmal...”
Gadis itu menceritakan
semuanya tanpa memperdulikan guyonanku.
“Benarkah, ini tidak
mungkin...”
Sontak saja aku terkejut
mendengar penjelasannya,
“Tenanglah Tuhan ada
bersamamu, besok kau akan segera diamputasi. Dan aku akan mendampingi mu besok,
yakinlah apa yang kita punya hanya titipan saja...”
Gadis itu mencoba
menguatkan dan meyakinkan ketidakpercayaan ku.
“Aku permisi dulu, masih
banyak tugas yang harus ku kerjakkan diluar sana”.
Kembali ia berpamitaan
padaku.
Jam demi jam telah berlalu, aku hanya teringat oleh perkataan
gadis itu. Dan aku berucap dalam hati, “apakah ini hukuman Tuhan untukku, yang
dulu selalu mengabaikan perintahnya”. Tapi pikiran itu ku tepiskan, ku ambil
novel gadis itu yang kusembunyikan dibawah bantal dan ku baca walau tak semua.
“Novel yang sangat
mengandung moral dan value yang sangatlah kuat, menyentuh serta penuh makna”.
Gumamku dalam hati.
Tak terasa lagi-lagi jam
sudah menunjukan 9.25 malam, saatnya aku beristirahat.
Sang surya kembali bersinar dan tak terasa ini adalah hari ke
3 aku dirawat. Gadis itu datang menemuiku sesuai janjinya yang ingin
mendampingiku untuk menghadapi operasi.
“Selamat pagi Akmal...”
Gadis itu menayapa pagiku
dengan senyuman,
“Terimakasih, gadis nan
indah...”
Aku menjawab sapaanya,
“Siapkah hari ini...”
Gadis itu menguatkan ku,
“Inshaallah aku siap,
karena aku percaya Tuhan selalu bersamaku...?”
Aku membalas ucapan gadis
itu.
Gadis
itu hanya tersenyum, kami saling bercerita tentang cita-cita. Ia menceritaakan
pada ku bahwa ia ingin menjadi wanita yang sempurna untuk suami dan anak-anak
yang Tuhan berikan padanya kelak. Hidup dalam kesederhanaan dan bahagia sampai
pada akhir nafas kehidupan. Dan ia juga bercerita bahwa ia ingin memiliki
pasangan sederhana tapi berhati mulia. Meskipun fisik tak sempurna.
Sungguh,
cita-cita gadis itu membuatku semakin sadar akan kebesaran Tuhan. Waktu telah
menunjukan bahwa aku akan segera di operasi, aku dilarikan keruangan khusus
pasien operasi dan didampingi oleh gadis baik hati itu.
“Bismillahirohmanirohim”,
Iya mendo’akan agar
kondisiku akan baik-baik saja.
Mungkin kurang lebih 2 jam dokter mengoperasi kakiku. Dan aku
mencoba untuk membuka mata yang terpejam akibat biusan sebelum operasi tadi.
Kini kaki kiriku benar-benar hilang dan cacat, ku pandangi seluruh sudut kamar
tak ku temui gadis itu. Mungkin ia sedang banyak kegiatan diluar sana.
Glekkk... pintu terbuka.
Aku terkejut, kupikir gadis
itu yang membuka pintu. Ternyata suster yang mengecek kondisiku.
“Tuan, ini sarapannya dan
ini obatnya...”
Suster itu menyapaku,
“Iya sama-sama sus, o iya
sus kemana gadis yang biasa menjengukku tiap pagi itu...?”
Aku bertanya pada suster,
“Ia hanya menitip pesan pak,
kalau dia sedang ada urusan....?”
Suster itu menjawab
pertanyaanku,
“Sus, siapa nama gadis
itu...?”
Aku kembali bertanya,
“Jihan, pak. Permisis dulu
tuan saya ingin mengecek keadaan pasien yang lain”.
Suster itu berpamitan
padaku.
Tak ku sangka gadis mulia dan baik hati itu bernama
Jihan, hari demi hari telah kulewati dan
ini sudah memasuki hari ke 7 itu artinya aku sudah satu minggu dirawat dirumah
sakit ini. Tapi aku merasa bingung, sudah hari ke 4 gadis itu tak menjenguk
kondisiku. Sontak saja membuat perasaan ku takkaruan, aku bertanya-tanya dalam
hati. Ditambah kegelisahanku yang mencuat, entah apakah yang sedang ku rasakan
saat ini. Sepertinya aku merasa jatuh cinta pada gadis yang bernama Jihan itu.
Tepatnya hari kelima, gadis itu datang menjengukku. Seperti
biasa ia menyapa pagi ku.
“Selamat pagi Akmal...?”
Dengan senyuman manisnya,
“Selamat pagi juga
Jihan...?”
Aku menjawab sapaan gadis
itu.
Dengan bingung gadis itu,
heran meliahat tingkahku yang mengetahui siapa namamanya. Tanpa pikir panjang
akupun memberanikan diri untuk berbicara agar aku bisa menjadi bagian hidupnya.
“Jihan, maafkan aku bila
aku lancang telah mengetahui namamu. Tapi ini bukan maksudku untuk mencari
kesempatan dalam kesempitan, kau hadir dalam setiap hariku menjagaku dalam
sakitku dan meyakinkanku tetntang arti kehidupan. Aku memang tak sempurna, tapi
dengarkanlah dulu isi hatiku. Aku tahu jawaban apa yang ingin kau ucapkkan
setelah ini. Tapi aku telah mencoba ikhlas dan kuat atas keputusanmu nanti.
Jihan apakah engkau mau menjadi pendampngku”.
Dengan perasaan takkaruan
aku mencoba mengutarakan isi hatiku.
Gadis bernama Jihan itu
hanya tersenyum dan menjawab pertanyaanku,
“Akmal, aku tidak melihatmu
pada tingakatan pangkat, harta, juga fisik yang kau miliki. Tapi aku melihatmu
pada keikhalasan serta kesabaranmu menghadapi ujian ini. Karena manusia tidak
ada yang tercipta sempurna, Akmal aku siap menjadi pendamping mu hingga akhir
hayat ku walau hanya dengan kesederhanaanku. Akmal maafkanlah aku bila aku
khilaf bersalah dengan ketidaksadaranku memperlakukan mu”.
Jihan mencoba menjelaskan
isi hatinya.
Aku merasa sangat bahagia karena masih ada wanita yang ingin
mendampingi sisa umurku ini.
Akhirnya, aku menikah dan
hidup bahagia dengan makhluk Tuhan yang mulia dan tulus mendampingiku. Walau
pekerjaanku tak seperti awal sebagai karyawan perusahaan swasta, aku hanyalah
seorang penulis yang bekerjasama dengan penerbit-penerbit terkenal. Yang
menghasilkan honor lumayan untuk bisa membahagiakan Jihan, istri yang amat ku
cinta.
Terimakasih Tuhan dari sini
aku belajar memahami arti kehidupan, bahwa seseorang tak perlu kaya atau pun
berfisik sempurna untuk mencapai kebahaagiaan.
JJJ
*** TAMAT ***
Original Post by :
Ade Riski
Sabtu, 14 Januari 2012
Puisiku
Maafkan Aku
terkadang senyum yang ku lihat terpancar darimu bukan bahagia,,
aku tau itu luka,,
luka yang berusaha disulam dengan senyum,,
aku tau semua itu kebudohanku,,
aku salah telah berbuat diluar kewajaranku,,
tapi itu dulu,,
waktu takkan bisa di rubah,,
takkan pernah aku bisa kembali ke masa lalu untuk merubah semua,,
sekarang aku disini,,
terpojok dengan penyeselan,,
yang aku bisa sekarang hanya menunggu,,
menunggu luka yang ku ukir tertutup kembali,,
menjadi hati yang utuh,meski harus ada bekas,,
ingin ku lihat senyummu,,
tapi bukan senyuman penutup lara,,
kan ku lakukan semua hal,,
meski ak harus menutup nyawa,,
tuk mengembalikan senyummu yang memudar karnaku,,
oleh:
Anggie Ischwara Putera
terkadang senyum yang ku lihat terpancar darimu bukan bahagia,,
aku tau itu luka,,
luka yang berusaha disulam dengan senyum,,
aku tau semua itu kebudohanku,,
aku salah telah berbuat diluar kewajaranku,,
tapi itu dulu,,
waktu takkan bisa di rubah,,
takkan pernah aku bisa kembali ke masa lalu untuk merubah semua,,
sekarang aku disini,,
terpojok dengan penyeselan,,
yang aku bisa sekarang hanya menunggu,,
menunggu luka yang ku ukir tertutup kembali,,
menjadi hati yang utuh,meski harus ada bekas,,
ingin ku lihat senyummu,,
tapi bukan senyuman penutup lara,,
kan ku lakukan semua hal,,
meski ak harus menutup nyawa,,
tuk mengembalikan senyummu yang memudar karnaku,,
oleh:
Anggie Ischwara Putera
Cerpenku
DUNIA HITAM GADIS
M
|
anusia diciptakan untuk saling berpasangan-pasangan. Tapi tidak dengan aku, aku Gadis. Aku adalah sosok manusia yang terlahir dengan keadaan yah, berkecukupan lebihlah. Tapi sayangnya aku anak yang sangat berberbeda jauh dari teman-teman ku. Aku anak tunggal dari pasangan suami istri, tapi aku broken home. Ayah Ibu ku bercerai dan memilih sama-sama menikah dengan orang lain. Mereka bercerai sejak aku berumur 5 tahun, setelah mereka bercerai aku pun memilih untuk tinggal denagn Ibu. Tapi nasib buruk mulai masuk lagi dikehidupan ku. Ibu menikah dengan bule belasteran australia . Dan Ayah entahlah mungkin hilang ditelan bumi atau bla, blla, bllaa, ...ya...ya...ya.... Rupanya Ibu lebih memilih ikut dengan bule itu dari pada aku anak kandungnya sendiri. Ya, nasib yang kurang menyenangkan, sejak kecil aku dirawat oleh baby sitter pribadiku, hingga sekarang. Hidup penuh dengan uang, uang dan uang tapi kurang kasih sayang membuat ku frustasi, membuatku ingin mati.
Malam sangat hening sambil duduk dikursi favoritku, ku tujukan mata pada panorama bintang-bintang yang cerianya berkelap-kelip sambil melamun. Dan terkejut oleh suara bibi Fini baby sitter pribadiku waktu kecil.
“Non, ada telepon dari nyonya untuk non Gadis...?”
Suara halus bibi Fini sambil menundukan kepala,
“Oh, makasih ya bi...” gumamku,
“Iya non sama-sama”
Sahutnya sambil pergi mejauh.
“Hallo, ???” sahut Mami,
“Iya Mam, ada apa ...?” jawabku denga nada cuek.
“Dis, Mami minta maaf tidak bisa pulang ke Indonesia soalnya disini sedang banyak kesibukan mengurus sebagian perusahaan Papi mu, sekali lagi Mami minta maaf kamu pahamkan ...?”
Jelas Mami,
“Oh, iya Mam aku gak apa-apa. Lagi pula disini aku tidak merasa kesepian. Sudahlah Mam, aku capek ngantuk, malam Mam ?”
Tut...tuutt...ttuut...
Suara telepon yang aku matikan.
Aku beranjak pergi meninggalkan teras dan masuk kekamar membaringkan tubuh hingga terlelap.
***
Krriiinnng.....
Jam beker ku berbunyi menandakan hari sudah pagi dan aku bergegas bangun untuk mempersiapkan sekolah. Setibanya aku diruang tengah bibi Fini telah mempersiapkan makan pagi untukku.
“Non, makan dulu ?”
Bibi Fini menyapa ku.
“Tidak bi, aku makan diluar saja. Lagian ini sudah hampir siang nanti aku terlambat ?”
Sahut ku dengan wajah muram sambil meninggalkan ruang tengah dan pergi menuju mobilku yang telah terparkir rapil. Tanpa pamit aku pun meninggalkan rumah, menyetir mobil sambil mendengarkan musik-musik penghilang galau ku semalam. Setibanya disekolah pelajaran yang diberikan jam demi jam membuatku semakin tambah muak. Hingga jam pulang pun telah berbunyi. Sambil berjalan menuju parkiran mobil, handphone ku berdering menandakan kalau ada 1 pesan BBM dari Mami.
“Gadis sayang, sehabis pulang sekolah jangan keluyuran ya. Kasihan bibi Fini dan jangan lupa seperti biasa kamu harus les Biola dengan tante Vero. Ok sayang... Mami sayang kamu...” Isi pesan BBM dari Mami.
Cetus ku dengan cuek tidak menanggapi pesan dari Mami. Aku pergi beranjakmenuju mall ternama, sesampainya disana aku berganti baju di toilet dan selesai akupun pergi berjalan-jalan, duduk di caffe sambil menikmati secangkir jus alpukat kesuksaan ku sendirian.
“Uh... hari-hari yang sangat membosankan, dari kecil sampai umurku 17 tahun dan telah duduk dikelas 2 SMA tidak ada yang memberikan perhatian lebih untukku. Gadis apakah kau tidak muak dengan dengan kelakuan orang tuamu”.
Ucapku dalam hati.
Blackberry ku pun berbunyi mengagetkan lamunankku...
Lagi –lagi 1 pesan BBM dari Mami.
“Gadis kamu dimana..?”
“Mami bisa tidak, untuk tidak mencampuri urusanku. Aku ini sudah besar, lagi pula aku bosan karena sejak kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari kalian, sudahlah aku muak diatur-atur”. Balas ku dengan kesal,
BBM singkat yang ku send pada Mami dengan perasaan jengkel. Dan kembali kutelpon bibi Fini.
“Hallo, bi aku gak pulang. Aku ada tugas dan tolong samapikan pada mami kalau aku menginap dirumah teman. Makasih.....”.
Ku sampaikan dengan suara yang super cuek, tanpa mendengar tanggapan balik dari bibi Fini.
Aku pun pergi dari caffe itu dan kembali kemobil sambil mengusap air mata yang berlinang karena menangis kesal. Handphone sengaja ku matikan agar tidak ada orang yang menggangu hidupku untuk hari ini. Jam tangan menunjukan pukul 9 malam, ku arahkan mobil menuju kesebuah club malam. Dimana aku sering melampiaskan keragun hidup dengan minuman-minuman dan alunan musik dj di club malam itu. Sampai aku bisa melupakan perihnya luka hati yang kualami. Yang kurasakan ditempat itu adalah tenang dan lupa akan sakitnya batinku.
***
Jam sudah menunjukan pukul 1. Tubuh terasa lemas, mual dan pusing. Entah berapa botol minuman yang kuteguk. Aku terlelap disebuah ruangan dengan sendirian. Yang ku rasa saat itu adalah tidur, pingsan atau apalah intinya mata ini terpejam erat.
Kurasakan sebuah kehangatan yang mencoba untuk melucutiku. Mencoba menerobos, mencari ruang dalam rapatnya busanaku. Serasa ada nafas yang hangat bergulir dileherku dan remasan-remasan nikmat yang membawaku jatuh dalam dunia gelap. Ingin rasa memberontak tapi tak kuat, tak berdaya, lemah dan seperti diracuni oleh sosok bejat yang entah dari mana datangnya. Atau memang karena minuman yang tlah aku minum. Yang akupun tak tau berapa banyak
Aku terbangaun, dan terkejut melihat apa yang telah menimpaku saat itu. Air mata terus berlinangan ketika aku mendapati sepucuk surat dari lelaki tak ku kenal.
“Gadis sayang, malam ini sangat indah. Terimakasih telah memberikan aku kesempatan untuk bercumbu mesra dengan mu, sorry.Hahahaha.....”
Tertanda ######
Surat tanpa nama itu semakin membuat ku frustasi, aku ingin mati, aku benci hidup ini. Dengan keadaan tak karuan serta rasa sakit, akupun bergegas pergi meninggalkan club malam itu. Dengan langkahku yang terseok-seok tanpa ada yang peduli padaku. Aku menuju mobil dan beranjak pulang. Sempat ku berfikir mengapa tidak ku terobos pembatas jalan dan terjun ke jurang. Tapi tidak, aku sadar dengan keadaanku yang seperti ini lambat launpun ak pasti akan mati.
***
Jam menunjukkan pukul 6 pagi, sesampainya dirumah bibi Fini menanyakan keadaanku yang terlihat agak kacau.
“Non, non kenapa ?”
Tanya bibi Fini dengan perasaan cemas.
Akupun segera beranjak dan meninggalkan bibi Fini yang membukakan ku pintu tanpa menjawab pertanyaanya. Setibanya dikamar aku segera kekamar mandi untuk membersihkan diri sambil menangis penuh kecewa. Beranjak dari kamar mandi dan berganti pakain, akupun menghempaskan tubuh keranjang dengan air mata yang terus mengalir hingga akhirnya aku terlelap karena lelah.
“Tok..tokk..tokk...non makan siang non”.
Suara bibi Fini yang terdengar dari balik pintu kamarku.
“Tidak bi, aku tidak lapar”.
Sahutku sambil menutupi wajah dengan bantal.
Lagi-lagi terdengar suara BBM masuk. Aku pikir itu pasti dari Mami yang memerintahkanku untuk langsung pulang setelah sekolah. Tapi ternyata dari Lala, teman sekolahku.
“Dis, kenapa gak masuk. Hari ini ada ulangan bahasa inggris...?”.
Jelas Lala.
“Aku sedang tidak enak badan La, tolong izinkan aku ya...?”.
Balasku menanggapi BBM Lala.
Seperti biasa, hariku tak bermakna. Satu jam, dua jam, dan jam demi jam terus bergulir tanpa makna.
***
Hari mulai beralih menjadi malam dan akupun merasa sangat kecewa.
“Aku hina, aku kotor dan aku menjijikan”.
Hanya kata-kata itulah yang terus aku ucapkan disudut kamar sambil menangis.
Semakin hari waktu semakin berganti. Sampai suatu hari aku merasa sangat mual dan pusing. Aku berlari menuju kekamar mandi dengan perasaan tak karuan.
“Apakah aku hamil ?,,”
Gumamku takut.
Aku berfikir dosa apa yang telah aku lakukan sampai aku harus mengalami semua ini.
Keesokan harinya kuberanikan diri untuk pergi kesebuah apotek dengan tujuan membeli alat tes kehamilan. Dan segera kembali kerumah, dengan cemas aku masuk kekamar mandi. Apa yang ku khawatirkan ternyata benar. Alat tes itu menujukan bahwa aku positif hamil. Tubuh ini langsung lemas dan air mata berlinang deras, menyesal dan kecewa menjadi satu.
“Tuhan, aku hamil, aku hina, aku menjijikan dan kotor”.
Ucapku dengan penuh kekecewaan.
Aku sudah tidak tau berapa banyak air mata ini aku cucurkan, tapi sama sekali tak dapat mengobati rasa yang kurasakan. Bahkan aku sendiripun tak tahu apa yang ku rasakan, apakah itu kecewa, sedih, frustasi, marah, atau apalah. Semua menjadi satu.
Entah dari mana datangnya sebuah fikiran gila, aku mencoba untuk menggugurkan bayi tak berdosa ini tapi tak pernah bisa aku lakukan. Aku putus asa. Ku tulis sepucuk surat untuk ibu yang berisi :
“Mam, Gadis minta maaf, mungkin Gadis telah mengecewakan banyak orang termasuk Mami, Gadis hina dan tak pantas menjadi anak mami. Gadis hamil dan entah bagaimana Gadis harus menanganinya mungkin ini terakhir kalinya Gadis curhat dengan Mami. Mami sering jenguk Gadis ya dirumah baru, karena dengan cara inilah Gadis bisa tenang, Gadis sangat sayang mami, I love U mom...”.
Isi surat terahir yang kutulis untuk Mami dan ku taruh di meja belajar.
Dengan penuh rasa menyesal aku meneguk berbagai macam obat hingga akhirnya aku overdosis. Hingga akhirnya aku koma dan di bawa ke sebuah rumah sakit. Aku tak tahu siapa yang membawaku, bahkan aku mengira kalau aku sudah mati. Setengah sadar aku mendengar suara yang asing bagiku tapi aku hafal suara itu, kucoba untuk membuka mata, ku lihat Ibu dan Ayah menangis di samping ku.
“Dis, maafkan Ayah dan Ibu yang telah menyia-nyiakanmu. Ibu menyesal, Ibu menyesal tak memberikan mu kasih sayang dan perhatian lebih untuk mu sejak kecil”.
Teriak ibu sambil menangis disampingku dan menggenggam tangan ku.
Aku hanya dapat berkata,
“Semua telah terlambat aku harus berakhir disini. Ayah, Ibu, melihat kalian untuk terakhir kalinya sudah membuat ku cukup bahagia, maafkan aku selama ini”.
Itulah kata-kata terakhir yang aku sampaikan dengan lirih dan dengan susah payah menahan sakit. Sebelum akhirnya aku pergi. Menghilang dan takkan mungkin untuk kembali.
Hilang untuk selamanya.
Disinilah aku sekarang, jauh dari orang-orang yang ku sayang. Berada didunia baruku.
Duniaku yang sepi, sendiri, dan gelap. Tapi satu hal yang sudah biasa bagiku yaitu jauh dari Ayah dan Ibu.
Selamat tinggal semua. Aku lebih baik disini.
***TAMAT***
***
Ade Riski Yanti
Langganan:
Postingan (Atom)