Selasa, 27 Maret 2012

TASBIH SALMA

“Dengar Salma, Abi tak suka melihat kau berhubungan dengan laki-laki. Kau belum mengerti tentang dunia luar, Abi tak suka dengan Fuzan dia itu pencuri. Ingat salma jika sekali lagi kau menemuinya, maka Abi akan memasung mu digudang”,
Suara keras ayah yang memarahiku,
“Tidak Abi, Fauzan bukan pencuri. Fauzan difitnah”,
Aku mencoba menjelaskan,
“Tidak, Fauzan itu pencuri selama ini ia adalah pembohong besar”.
Abi semakin memerahiku.
Umi memelukku sambil menangis, ini semua adalah kesalahanku. Karena aku telah lancang bertemu dengan laki-laki yang tak abi sukai. Yah, dia adalah Fauzan penjual susu kedelai dipasar ijabah kota mesir. Jujur saja Fauzan adalah seorang pemuda tangguh, gigih dan berhati mulia, aku menyukainyadan ia pun menyukai ku. Tapi sayang abi tak menyetujui hubungan kami. Sebenarnya dulu Abi sangatlah akrab dengan Fauzan, tapi karena ada orang yang tak suka melihat Abi dan Fauzan akrab, sehingga orang itu tega memfitnah Fuzan sebagai pencuri. Dari situlah Abi sangat membenci Fauzan.
     Mungkin ini pertengkaran ku dengan Abi yang bukan untuk pertama kali. Sudah berulang-ulang aku mencoba menjelaskan tentang perbuatan Fauza yang sebenarnya. Tetap saja Abi tidak mempercayai penjelasanku. Sebenarnya aku tahu siapa orang yang sengaja memfithan Fauzan, orang itu adalah Amir. Amir adalah orang yang sangat menyukaiku, berulang-ulang ia mengajakku menikah tapi selalu saja ajakkan itu kotolak, karena Amir adalah orang yang sombong serta serakah.
     Aku amatlah paham kenapa Amir sengaja memfitnah Fauzan, agar Abi memilihnya sebagi menantu. Semenjak itulah aku hanya bertemu diam-diam dengan Fauzan. Aku sering mengurung diri dikamar, akrena tak iangan melihat wajah Abi yang tak mau mempercayai anaknya sendiri.
“Salma, ayo makan malam...?”
Umi mengetuk pintuku dan menyuruh ku untuk makan malam bersama,
“Iya Umi”.
Aku menjawab ajakan dari Umi.
     Duduk dikursi ruang makan, aku hanya berdiam tanpa melirik kearah Abi. Selama makan aku hanya meujukan mata ke Umi dan akhirnya Abi membuka topik pembicaraan.
“Salma, sudahlah lupakan saja Fauzan. Ia itu hanyalah seorang penipu, tak pantas menjadi menantu Abi dan Umi, yang pantas menjadi suami mu itu adalah Amir. Amir itu kaya, baik dan bukanlah seorang penipu ataupun pencuri...?”
Abi mencoba menjelaskan.
Sedikitpun aku hanya berdiam dan tak menjawab keinginan Abi untuk menjadikan Amir sebagai menantunya.
     Setelah selesai makan akupun pergi kekamar, menangis dan meronta-ronta. Tak lama kemudian terdengar suara Umi yang berbisik dari luar pintu tanpa mengetuk. Ku buka dan lekas ku suruh masuk.
“Salma sayang, Umi mengerti perasaan mu. Tapi Umi tak berani untuk membela mu,Umi yakin kalau Fauzan bukanlah pencuri dia adalah pemuda yang sopan serta ramah dan Umi juga tahu siapa biang dari semua ini. Sabarlah nak, Abi mu berbuat seperti itu karena ia sangat menyayangimu. Kamu adalah anak satu-satunya, jadi hal itulah yang membuatnya kalap mata. Tapi Umi yakin Tuhan itu maha melihat bersabarlah nak”,
Umi mencoba meyakinkan ku, seakan-akan ia mengerti tentang kondisiku,
“Iya Umi, terimakasih atas pengertian Umi. Salma paham kenapa Abi memperlakukan ku seperti itu”,
Aku menjawab pembicaraan Umi,
“Tidurlah nak, hari sudah sangat malam. Umi menyangi mu nak”.
Umi menyelimuti ku dengan penuh kasih sayang dan pergi dari kamarku.
     Hari telah berganti menjadi pagi, suara keramaian orang-orang telah terdengar. Karena ini adalah hari libur akupun bergegas bangun dan menuju ke arah Umi yang sedang asik meracik bumbu-bumbu untuk sarapan pagi.
“Selamat pagi Umi...?”
Aku menyapanya,
“Selamt pagi juga Salma ku sayang, baru bangun lekas mandi dulu sana setelah itu bentu Umi memotong-motong sayur...?”
Umi menjawab sapaanku.
Tanpa banyak basa basi aku segera menuruti kemauanya itu, selesai mandi aku pun membantu pekerjaannya. Dari memotong sayur, membersihkan ikan, memasak dan menyiapkan makanan yang tertata dimeja makan.
“Salama, bangunkan Abi mu suruh dia lekas turun untuk sarapan...?”
Umi menyuruhku,
“Tidak mau Umi, Umi saja yang membangunkanya...?”
Aku menjawab dengan dahi mengkerut,
“Yah, sudah biar Umi saja”
Jelas Umi.
Tak lama kemudian, Umi dan Abi mengahmiri meja makan. Kami bertiga makan dengan penuh nikmat. Tapi tetap saja tingkah ku masih sama seperti tadi malam, hanya berdiam.
“Salma, tiga hari lagi Amir akan melamarmu. Kamu harus siap Abi tak mau tahu...?”
Abi mulai membuka topik tentu saja tentang si Amir.
Sontak saja perkataan Abi itu membuat ku dan Umi terkejut, seketika nafsu makan ku hilang. Aku hanya menundukan kepala sambil meneteskan air mata dan berlari dari ruang makan menuju kamar. Enatah apa yang ada difikiran Abi tentang Amir.
     Dikamar aku hanya menangis menangis dan menangis. Aku tak tahu harus apa, rasanya aku ingin kabur dari rumah. Tapi aku merasa kahsihan dengan Umi.
“Tokk, tokk, tokk... salma ini Umi, bolehkan Umi masuk...?”
Umi memanggilku dari balik pintu,
“Masuklah umi pintu tidak dikunci”
Aku menjawab panggilan itu.
“Salama anakku,Umi sangatlah paham dengan perasaan mu saat ini. Umi sudah mencoba menjelaskan tapi yang Umi dapati adalah kemarahan dari Abi. Anakku, sabarlah...?”
Umi mencoba menjelaskan dengan penuh derai air mata,
“Umi tak perlu membelaku didepan Abi, biarkan saja aku yang akan berusaha menjelaskan ini semua. Umi tinggalkanlah dulu aku sendirian”.
Aku juga mencoba menjelaskan maksudku pada Umi dan memintanya untuk membiarkan ku tenang.
     Hari demi hari telah berganti, tiba saatnya Amir datang untuk melamarku.
“Salma, kau harus menerima lamaran Amir. Abi tak mau tahu”
Abi memaksaku dengan nada keras.
Aku hanya berdiam dan tak lama kemudian Amir dan orang tuanya datang untuk melamarku. Umi dan Abi menyambut kedatangan mereka, dipersilahkan masuk. Aku tak tahu harus apa disaat itu, aku ingin menangis tapi hati berkata “tidak sekarang aku meneteskan aor mata”.
Orang tua Amir memintaku menjawab apakah aku siap menjadi menantu mereka. Aku hanya berdiam, belum saja aku menjawab pertanyaan mereka Abi sudah berucap pada mereka.
“Salma sudah siap untuk menjadi pendamping Amir”,
Abi menjelaskan tentang perasaanku, walau itu bukanlah penjelasan yang sebenarnya dari mulutku.
Hatiku terasa remuk, orang yang benar-benar aku cinta mencoba memaksa ku untuk menjadi istrinya.
“Baiklah tiga hari lagi ijab kabul akan kami laksanakan, Salma persiapkan dirimu”
Tambah dari orang tua Amir,
“Oh iya tentu saja, semakin cepat semakin baik”
Ujar Abi berkata dengan tawa bahagia.
     Setelah mereka pergi aku mencoba berteriak pada Abi.
“Abi, Abi keterlaluan. Abi meanggapku barang, seenaknya saja Abi menyerahkan cintaku pada orang yang tak pernah aku cintai”
Aku menangis dan meluapkan amarah yang terpendam,
Abi menamparku,
“Apa kau berani menantangku, tidak Salma selama ini kau buta. Fauzab itu bukan lelaki yang baik, dia itu keparat dan hanylah sampah”
Abi berbicara,
“Abi, ini anak kita. Ia punya masa depan dengan pilihannya, ia sudah dewasa”
Umi memeluku dengan penuh air mata sambil membelaku,
“Kurang ajar kau mi, Kau berpihak pada Sampah itu”
Kemarahan Abi semakin tak terbendung,
“Tidak Abi, Fauzan bukan sampah dia pemuda yang aku cinta kebahagiaanku ada bersamanya bukan pada Amir yang tidak pernah sama sekali aku cinta”
Aku mecoba membela diri,
“Apa kau bilang, kebahagiaanmu ada bersamanya. Haha itu tak mungkin Salma, tak mugkin pencuri dan sampah seperti dia mampu membahagiakan mu. Sekali lagi Abi katakan, kau akan tetap menikah dengan Amir. Abi akan mengurung mu digudang agar kamu sadar bahwa orang pilihan Abi  tepat”
Abi tertawa jahat dan menyeret ku kegudang.
     Umi hanya dapat menangis dan meronta-ronta melihat perlakuan kejam abi padaku. Disinilah aku sekarang, digudang yang kotor menakutkan dan gelap, aku mendengar suara dari balik kaca yang telah berdebu. Aku mencoba mngintip dan suara itu adalah suara Gafar, sahabat baikku dan Fauzan. Gafar mencoba menjelaskan padaku tenteng keadaan Fauzan.
“Salma, ini aku Gafar...?”
Gafar mencoba meyakinkanku,
“Sedang apa kau disini...?”
Aku bertanya,
“Aku kesini ingin memberitahu tentang keadaan Fauzan. Salma aku tahu kalau kau akan melaksanakan ijab kabul dengan Amir tiga hari lagi. Ada berita baik tenteng itu, ikutilah ijab kabul itu. Aku dan Fauzan akan datang membawa bukti-bukti tentang kelicikan Amir, aku tak sengaja merekam percakapan Amir dengan salah satu pemuda. Yang isi dari percakap itu adalah, Amir membayar orang menjadi pihak yang merasa kerampokan sehingga disaat itulah seakan-akan Amir bisa menajatuhkan posisi Fauzan yang tinggal selangkah lagi bisa menjadi menantu Abi mu. Ini tasbih untuk mu dari Fauzan, bertawakallah kamu pada Allah dan mohonlah pertolongan. Insoallah aku akan membantumu”
Gafar mencoba menjelaskan tentang rencana yang akan ia buat.
     Setelah mendengar kabar itu perasaanku sangatlah tenang, ku habiskan waktu dengan berdo’a memohon pertolongan pada Allah. Hingga akhirnya tiba saatnya aku melaksanakan ijab kabul. Tanpa ada lagi perasaan takkaruan dan merasa sangat tenang. Dengan penuh semangat aku menuju ke Arah Amir yang telah siap menjadikan ku istri yang salah didepan, para saksi-saksi dan penghulu.
“Bagaimana para tamu, kita mulai saja ijab kabulnya”
Ujar penghulu.
“Bismillahirohmanirohim, saya nikahkan saudara Amirrudin Bin Zafin dengan Salma Nurlya Binti Gozhali dengan mas kawin seperangakt alat solat dibayar tunai”
Penghulu mendahului ijib kabul,
“Bismillahirohmanirohim, saya terima nikah dan kawinnya Salma Nurlya Binti Gozhali dengan mas kawin seperangakt alat solat dibayar tunai”
Amir kembali mengulang kata-kata penghulu.
Aku mencoba tenang dan berdo’a dalam hati, “ya Allah tolonglah hambamu ini”. Sebelum orang-orang menjawab sah yang diucapkan penghulu aku mendengar suara dua orang pemuda berteriak “Tidak sah”. Aku sangat yakin bahwa orang itu adalah Gafar dan Fauzan.
“Ada apa ini...?”
Abi terkejut,
“Maafkan saya tuan, lancang masuk keacara ijab kabul anak tuan. Tapi dengarkan dulu pennjelasan saya tuamn. Saya kesini hanya ini membuktikan bahwa saya bukanlah pencuri...?”
Fauzan mencoba menjelaskan perkara yang sebenarnya,
“Hei, Fauzan apa maksudmu...?”
Abi merasa bingung dengan penjelasan Fauzan,
“Dengarkanlah rekaman ini para tamu-tamu undangan”
Fauzan memutar isi percakapan itu didepan para tamu undangan.
“Apa, ternyata selama ini bukan Fauza yang menjadi orang picik. Orang picik selama ini adalah dirimu Amir. Aku tidak menyetujui ijab kabu ini...?”
Abi berteriak terkejut dan mencaci maki Amir ditambah teriakan orang-orang yang muak atas kesomongannya itu.
     Taklama kemudian, abi meminta maaf padaku, pada umi dan pada Fauzan.
“Fauzan, maafkan kesalahan Abi yang pernah membenci mu. Maafkan abi, kini abi sadar bahwa orang yang pantas membahagiakan Salma adalah dirimu Fauzan”
Abi memeluk Fauzan dan meminta maaf,
“Abi, sudikan Abi menerima ku sebagi menantu”
Fauzan memohon restu pada Abi,
“Tentu saja nak Fauzan dengan senang hati abi menerimamu sebagi menantu”
Abi menjawab permohonan itu.
Langsung saja ijab kabul kami laksanakan, akhirnya aku sah menjadi istri Fauzan.  Dan Amir aku tak pernah tahu kemana ia dan orang tuanya sekarang berada mungkin mereka pindah dari kota ini akibat malu dengan perbuatan mereka.
     Aku hidup bahagia dan telah dikaruniai seorang anak yang cantik rupanya, namanya Tamara nurrahma.

JJJ
***TAMAT***

Original Post by :
Ade Riski