TASBIH SALMA
“Dengar Salma, Abi tak suka melihat kau berhubungan dengan
laki-laki. Kau belum mengerti tentang dunia luar, Abi tak suka dengan Fuzan dia
itu pencuri. Ingat salma jika sekali lagi kau menemuinya, maka Abi akan
memasung mu digudang”,
Suara keras ayah yang memarahiku,
“Tidak Abi, Fauzan bukan pencuri. Fauzan difitnah”,
Aku mencoba menjelaskan,
“Tidak, Fauzan itu pencuri selama ini ia adalah pembohong
besar”.
Abi semakin memerahiku.
Umi memelukku sambil menangis, ini semua adalah kesalahanku. Karena
aku telah lancang bertemu dengan laki-laki yang tak abi sukai. Yah, dia adalah
Fauzan penjual susu kedelai dipasar ijabah kota mesir. Jujur saja Fauzan adalah
seorang pemuda tangguh, gigih dan berhati mulia, aku menyukainyadan ia pun
menyukai ku. Tapi sayang abi tak menyetujui hubungan kami. Sebenarnya dulu Abi
sangatlah akrab dengan Fauzan, tapi karena ada orang yang tak suka melihat Abi
dan Fauzan akrab, sehingga orang itu tega memfitnah Fuzan sebagai pencuri. Dari
situlah Abi sangat membenci Fauzan.
Mungkin ini
pertengkaran ku dengan Abi yang bukan untuk pertama kali. Sudah berulang-ulang
aku mencoba menjelaskan tentang perbuatan Fauza yang sebenarnya. Tetap saja Abi
tidak mempercayai penjelasanku. Sebenarnya aku tahu siapa orang yang sengaja
memfithan Fauzan, orang itu adalah Amir. Amir adalah orang yang sangat
menyukaiku, berulang-ulang ia mengajakku menikah tapi selalu saja ajakkan itu
kotolak, karena Amir adalah orang yang sombong serta serakah.
Aku amatlah paham
kenapa Amir sengaja memfitnah Fauzan, agar Abi memilihnya sebagi menantu.
Semenjak itulah aku hanya bertemu diam-diam dengan Fauzan. Aku sering mengurung
diri dikamar, akrena tak iangan melihat wajah Abi yang tak mau mempercayai
anaknya sendiri.
“Salma, ayo makan malam...?”
Umi mengetuk pintuku dan menyuruh ku untuk makan malam bersama,
“Iya Umi”.
Aku menjawab ajakan dari Umi.
Duduk dikursi ruang
makan, aku hanya berdiam tanpa melirik kearah Abi. Selama makan aku hanya
meujukan mata ke Umi dan akhirnya Abi membuka topik pembicaraan.
“Salma, sudahlah lupakan saja Fauzan. Ia itu hanyalah seorang
penipu, tak pantas menjadi menantu Abi dan Umi, yang pantas menjadi suami mu
itu adalah Amir. Amir itu kaya, baik dan bukanlah seorang penipu ataupun
pencuri...?”
Abi mencoba menjelaskan.
Sedikitpun aku hanya berdiam dan tak menjawab keinginan Abi
untuk menjadikan Amir sebagai menantunya.
Setelah selesai makan
akupun pergi kekamar, menangis dan meronta-ronta. Tak lama kemudian terdengar
suara Umi yang berbisik dari luar pintu tanpa mengetuk. Ku buka dan lekas ku
suruh masuk.
“Salma sayang, Umi mengerti perasaan mu. Tapi Umi tak berani
untuk membela mu,Umi yakin kalau Fauzan bukanlah pencuri dia adalah pemuda yang
sopan serta ramah dan Umi juga tahu siapa biang dari semua ini. Sabarlah nak,
Abi mu berbuat seperti itu karena ia sangat menyayangimu. Kamu adalah anak
satu-satunya, jadi hal itulah yang membuatnya kalap mata. Tapi Umi yakin Tuhan
itu maha melihat bersabarlah nak”,
Umi mencoba meyakinkan ku, seakan-akan ia mengerti tentang
kondisiku,
“Iya Umi, terimakasih atas pengertian Umi. Salma paham kenapa
Abi memperlakukan ku seperti itu”,
Aku menjawab pembicaraan Umi,
“Tidurlah nak, hari sudah sangat malam. Umi menyangi mu nak”.
Umi menyelimuti ku dengan penuh kasih sayang dan pergi dari
kamarku.
Hari telah berganti
menjadi pagi, suara keramaian orang-orang telah terdengar. Karena ini adalah
hari libur akupun bergegas bangun dan menuju ke arah Umi yang sedang asik
meracik bumbu-bumbu untuk sarapan pagi.
“Selamat pagi Umi...?”
Aku menyapanya,
“Selamt pagi juga Salma ku sayang, baru bangun lekas mandi dulu
sana setelah itu bentu Umi memotong-motong sayur...?”
Umi menjawab sapaanku.
Tanpa banyak basa basi aku segera menuruti
kemauanya itu, selesai mandi aku pun membantu pekerjaannya. Dari memotong sayur,
membersihkan ikan, memasak dan menyiapkan makanan yang tertata dimeja makan.
“Salama, bangunkan Abi mu suruh dia lekas turun untuk
sarapan...?”
Umi menyuruhku,
“Tidak mau Umi, Umi saja yang membangunkanya...?”
Aku menjawab dengan dahi mengkerut,
“Yah, sudah biar Umi saja”
Jelas Umi.
Tak lama kemudian, Umi dan Abi mengahmiri meja makan. Kami
bertiga makan dengan penuh nikmat. Tapi tetap saja tingkah ku masih sama
seperti tadi malam, hanya berdiam.
“Salma, tiga hari lagi Amir akan melamarmu. Kamu harus siap Abi
tak mau tahu...?”
Abi mulai membuka topik tentu saja tentang si Amir.
Sontak saja perkataan Abi itu membuat ku dan Umi terkejut,
seketika nafsu makan ku hilang. Aku hanya menundukan kepala sambil meneteskan
air mata dan berlari dari ruang makan menuju kamar. Enatah apa yang ada
difikiran Abi tentang Amir.
Dikamar aku hanya
menangis menangis dan menangis. Aku tak tahu harus apa, rasanya aku ingin kabur
dari rumah. Tapi aku merasa kahsihan dengan Umi.
“Tokk, tokk, tokk... salma ini Umi, bolehkan Umi masuk...?”
Umi memanggilku dari balik pintu,
“Masuklah umi pintu tidak dikunci”
Aku menjawab panggilan itu.
“Salama anakku,Umi sangatlah paham dengan perasaan mu saat ini.
Umi sudah mencoba menjelaskan tapi yang Umi dapati adalah kemarahan dari Abi.
Anakku, sabarlah...?”
Umi mencoba menjelaskan dengan penuh derai air mata,
“Umi tak perlu membelaku didepan Abi, biarkan saja aku yang akan
berusaha menjelaskan ini semua. Umi tinggalkanlah dulu aku sendirian”.
Aku juga mencoba menjelaskan maksudku pada Umi dan memintanya
untuk membiarkan ku tenang.
Hari demi hari telah
berganti, tiba saatnya Amir datang untuk melamarku.
“Salma, kau harus menerima lamaran Amir. Abi tak mau tahu”
Abi memaksaku dengan nada keras.
Aku hanya berdiam dan tak lama kemudian Amir dan orang tuanya
datang untuk melamarku. Umi dan Abi menyambut kedatangan mereka, dipersilahkan
masuk. Aku tak tahu harus apa disaat itu, aku ingin menangis tapi hati berkata
“tidak sekarang aku meneteskan aor mata”.
Orang tua Amir memintaku menjawab apakah aku siap menjadi
menantu mereka. Aku hanya berdiam, belum saja aku menjawab pertanyaan mereka
Abi sudah berucap pada mereka.
“Salma sudah siap untuk menjadi pendamping Amir”,
Abi menjelaskan tentang perasaanku, walau itu bukanlah
penjelasan yang sebenarnya dari mulutku.
Hatiku terasa remuk, orang yang benar-benar aku cinta mencoba
memaksa ku untuk menjadi istrinya.
“Baiklah tiga hari lagi ijab kabul akan kami laksanakan, Salma
persiapkan dirimu”
Tambah dari orang tua Amir,
“Oh iya tentu saja, semakin cepat semakin baik”
Ujar Abi berkata dengan tawa bahagia.
Setelah mereka pergi
aku mencoba berteriak pada Abi.
“Abi, Abi keterlaluan. Abi meanggapku barang, seenaknya saja Abi
menyerahkan cintaku pada orang yang tak pernah aku cintai”
Aku menangis dan meluapkan amarah yang terpendam,
Abi menamparku,
“Apa kau berani menantangku, tidak Salma selama ini kau buta.
Fauzab itu bukan lelaki yang baik, dia itu keparat dan hanylah sampah”
Abi berbicara,
“Abi, ini anak kita. Ia punya masa depan dengan pilihannya, ia
sudah dewasa”
Umi memeluku dengan penuh air mata sambil membelaku,
“Kurang ajar kau mi, Kau berpihak pada Sampah itu”
Kemarahan Abi semakin tak terbendung,
“Tidak Abi, Fauzan bukan sampah dia pemuda yang aku cinta
kebahagiaanku ada bersamanya bukan pada Amir yang tidak pernah sama sekali aku
cinta”
Aku mecoba membela diri,
“Apa kau bilang, kebahagiaanmu ada bersamanya. Haha itu tak
mungkin Salma, tak mugkin pencuri dan sampah seperti dia mampu membahagiakan
mu. Sekali lagi Abi katakan, kau akan tetap menikah dengan Amir. Abi akan
mengurung mu digudang agar kamu sadar bahwa orang pilihan Abi tepat”
Abi tertawa jahat dan menyeret ku kegudang.
Umi hanya dapat
menangis dan meronta-ronta melihat perlakuan kejam abi padaku. Disinilah aku
sekarang, digudang yang kotor menakutkan dan gelap, aku mendengar suara dari
balik kaca yang telah berdebu. Aku mencoba mngintip dan suara itu adalah suara Gafar,
sahabat baikku dan Fauzan. Gafar mencoba menjelaskan padaku tenteng keadaan
Fauzan.
“Salma, ini aku Gafar...?”
Gafar mencoba meyakinkanku,
“Sedang apa kau disini...?”
Aku bertanya,
“Aku kesini ingin memberitahu tentang keadaan Fauzan. Salma aku
tahu kalau kau akan melaksanakan ijab kabul dengan Amir tiga hari lagi. Ada
berita baik tenteng itu, ikutilah ijab kabul itu. Aku dan Fauzan akan datang
membawa bukti-bukti tentang kelicikan Amir, aku tak sengaja merekam percakapan
Amir dengan salah satu pemuda. Yang isi dari percakap itu adalah, Amir membayar
orang menjadi pihak yang merasa kerampokan sehingga disaat itulah seakan-akan
Amir bisa menajatuhkan posisi Fauzan yang tinggal selangkah lagi bisa menjadi
menantu Abi mu. Ini tasbih untuk mu dari Fauzan, bertawakallah kamu pada Allah
dan mohonlah pertolongan. Insoallah aku akan membantumu”
Gafar mencoba menjelaskan tentang rencana yang akan ia buat.
Setelah mendengar
kabar itu perasaanku sangatlah tenang, ku habiskan waktu dengan berdo’a memohon
pertolongan pada Allah. Hingga akhirnya tiba saatnya aku melaksanakan ijab
kabul. Tanpa ada lagi perasaan takkaruan dan merasa sangat tenang. Dengan penuh
semangat aku menuju ke Arah Amir yang telah siap menjadikan ku istri yang salah
didepan, para saksi-saksi dan penghulu.
“Bagaimana para tamu, kita mulai saja ijab kabulnya”
Ujar penghulu.
“Bismillahirohmanirohim, saya nikahkan saudara Amirrudin Bin
Zafin dengan Salma Nurlya Binti Gozhali dengan mas kawin seperangakt alat solat
dibayar tunai”
Penghulu mendahului ijib kabul,
“Bismillahirohmanirohim, saya terima nikah dan kawinnya Salma
Nurlya Binti Gozhali dengan mas kawin seperangakt alat solat dibayar tunai”
Amir kembali mengulang kata-kata penghulu.
Aku mencoba tenang dan berdo’a dalam hati, “ya Allah tolonglah
hambamu ini”. Sebelum orang-orang menjawab sah yang diucapkan penghulu aku
mendengar suara dua orang pemuda berteriak “Tidak sah”. Aku sangat yakin bahwa
orang itu adalah Gafar dan Fauzan.
“Ada apa ini...?”
Abi terkejut,
“Maafkan saya tuan, lancang masuk keacara ijab kabul anak tuan.
Tapi dengarkan dulu pennjelasan saya tuamn. Saya kesini hanya ini membuktikan
bahwa saya bukanlah pencuri...?”
Fauzan mencoba menjelaskan perkara yang sebenarnya,
“Hei, Fauzan apa maksudmu...?”
Abi merasa bingung dengan penjelasan Fauzan,
“Dengarkanlah rekaman ini para tamu-tamu undangan”
Fauzan memutar isi percakapan itu didepan para tamu undangan.
“Apa, ternyata selama ini bukan Fauza yang menjadi orang picik.
Orang picik selama ini adalah dirimu Amir. Aku tidak menyetujui ijab kabu
ini...?”
Abi berteriak terkejut dan mencaci maki Amir ditambah teriakan
orang-orang yang muak atas kesomongannya itu.
Taklama kemudian, abi
meminta maaf padaku, pada umi dan pada Fauzan.
“Fauzan, maafkan kesalahan Abi yang pernah membenci mu. Maafkan
abi, kini abi sadar bahwa orang yang pantas membahagiakan Salma adalah dirimu
Fauzan”
Abi memeluk Fauzan dan meminta maaf,
“Abi, sudikan Abi menerima ku sebagi menantu”
Fauzan memohon restu pada Abi,
“Tentu saja nak Fauzan dengan senang hati abi menerimamu sebagi
menantu”
Abi menjawab permohonan itu.
Langsung saja ijab kabul kami laksanakan, akhirnya aku sah
menjadi istri Fauzan. Dan Amir aku tak
pernah tahu kemana ia dan orang tuanya sekarang berada mungkin mereka pindah
dari kota ini akibat malu dengan perbuatan mereka.
Aku hidup bahagia dan
telah dikaruniai seorang anak yang cantik rupanya, namanya Tamara nurrahma.
JJJ
***TAMAT***
Original Post by :
Ade Riski
Ade Riski