Gadis Berjilbab
Gadis
itu seakan-akan hilang ditelan bumi. Yang ku rasa saat itu adalah tersungkur
sakit, terpejam dan tak mampu untuk bangun. Yah, saat itu bus yang kutumpangi
melaju kearah tempat kerjaku tapi ditengah perjalanan aku beserta penumpang lainnya
terkena musibah. Bus yang ku tumpangi oleng dan menabrak pembatas jalan hingga
akhirnya masuk kejurang. Aku adalah salah satu korban yang selamat dalam
kecelakaan bus itu, tapi nasib naas belum berakhir aku harus menyandang cacat.
Kaki kiri ku patah dan harus diamputasi, entah siapa yang saat itu menolong dan
membawa ku kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.
Beberapa
jam kemudian, aku mencoba membuka mata. Walau tubuh masih sakit dan nyeri. Aku
terkejut karena disampingku ada seorang sosok yang sangat indah matanya, manis
senyumannya. Aku bingung dan bertanya-tanya dalam hati, apakah ini nyata atau
hanya mimpi belaka.
Malaikat
ini sungguh berhati mulia, wajahnya mempesona dan kepalanya ditutupi jilbab
yang membuatnya semakin sempurna. Aku memandangi wajahnya yang sedang asyik
membaca novel, hingga akhirnya ia menoleh ke arah ku.
“Sudah sadarkah kamu...?”
Sapanya dengan senyuman dan
nada suara yang ramah,
“Oh, iya. Siapa yang
membawa ku kesini...?”
Aku menjawab sambil
merintih kesakitaan,
“Tuhan mu lah yang
membawamu kesini, istirahatlah dulu karena kondisimu belum stabil. Aku akan
panggilkan suster untuk mengecek keadaan mu...?”
Dan lagi-lagi gadis itu
menjawab dengan senyuman dan tutur kata yang ramah sambil pergi menjauh dariku,
“Tunggu dulu... siapa nama
mu...?”
Aku bertanya pada gadis
itu.
Gadis itu tak menjawab
pertanyaan ku, ia hanya melemparkan senyuman dan pergi dari ruangan ku.
“Malaikat yang mempesona
dan misterius”,
Gumamku dalam hati sambil
tersenyum.
Gleekk,... suara pintu terbuka.
“Permisi tuan, bisa saya
cek dulu kodisinya...?”
Salah seorang suster
menyapaku,
“Iya, sus silahkan
masuk...?”
Aku mejawab sapaan suster
itu.
Sambil mengecek kondisi ku,
aku mencoba bertanya pada suster itu.
“Sus, siapa yang membawaku
kesini dan kenapa aku bisa berada dirumah sakit ini...?”
Aku bertanya dengan wajah
bingung,
“Gadis berjilbab tadi pak yang
membawa anda kesini. Anda adalah korban kecelakaan bus yang anda tumpangi tadi
pagi ”.
Suster itu mencoba
menjelaskan,
“Siapa nama gadis itu
sus...?”
Aku kembali bertanya,
“Gadis itu hanya berpesan
pada kami pak, kalau dia hanyalah seoarang hamba Tuhan yang ingin menaburkan
kebaikan. Baiklah sepertinya kondisi bapak sudah 75% membaik. Istirahatlah anda,
ini obat dan makan malamnya. Permisi...”,
Suster itu mejelaskan
sambil tersenyum, dan pergi meninggalkan ku yang sedang kebingungan.
Aku mencoba bangun, dan melihat-lihat disampingku. Aku
mendapati handphone, kucoba untuk meraih handphone yang berada dimeja dan
akhirnya aku berhasil meraihnya.tapi sayang, handphone itu sisa bangkai. Yah,
hancur tak berbentuk.
“Sialan, handphone mahal
ternyata bisa rusak”.
Gumamku dalam hati, kesal.
Ku toleh lagi kemeja itu,
dan kudapati buku yang dibaca oleh gadis misterius yang duduk disampingku tadi.
Mungkin ia lupa menaruh buku itu, sehingga tertinggal dimeja ruanganku.
“kidung cinta pohon kurma”,
Aku membaca judul novel
milik gadis misterius itu.
Ku lihat jam ternyata sudah
menunjukan pukul 9 malam, mata terasa ngantuk dan tubuh masih terasa sakit.
Mungkin karena reaksi obat yang diberi suster tadi sehingga aku pun terlelap
dengan nyenyak.
Malam telah berlalu dan sang surya kembali bersinar menyambut
pagi, mata yang kelat ini mencoba memaksa bangun. Lantas saja lagi-lagi ku
dapati gadis berjilbab itu duduk disampingku.
“Bagaimana keadaan mu...?”
Gadis itu menyambut pagi ku
dengan sapaan yang halus dan lembut,
“Sudah lumayan membaik,
bagaimana dengan keadaan mu...?”
Aku membalas sapaannya itu,
“Aku selalu dikaruniai
keadaan yang baik-baik saja...”
Gadis itu kembali menjelaskan
dengan singkat,
“Kenapa kamu tidak mau
memberi tahu siapa nama mu...?”
Aku bertanya dengan dahi
mengkerut,
“Kau tak perlu tau siapa
nama ku, aku hanya ingin tahu siapa nama mu...?”
Jelas gadis itu,
“Nama ku Akmal, kenapa aku
tak perlu tahu siapa namamu...?”
Aku kembali bertanya
sembari untuk mencoba bangun dari kasur,
“Tidak, kau akan mengerti
nanti. Kedatanganku pagi ini hanya ingin melihat keadaan mu dan mencari apakah
novel ku tertinggal disini...?”
Gadis itu menjawab,
“Aku tak tahu, novel mu yang mana...?”
Aku mencoba mebohonginya,
karena novelnya sengaja ku sembunyikan agar ia mau memberitahu siapa namanya,
“Novelku yang berjudul
Kidung Cinta Pohon Kurma. Tapi tak apalah mungkin aku lupa menaruhnya dimana.
Baiklah aku ingin keluar dulu mencarikan mu sarapan”.
Gadis itu meninggalkan ku.
Hatiku hanya merasa bahagia, karena Tuhan amatlah baik telah
menurunkan malaikat yang mulia dan mempesona. Senyumannya dan matanya tak dapat
ku lupakan walau pun ia adalah sosok yang misterius.
“Ini sarapannya, dimakan
dulu...”
Ia mengejutkan lamunanku,
“Yah, terimakasih. Kau
makhluk Tuhan yang indah...”
Aku mencoba merayunya,
namun tak ditanggapi olehnya.
“Aku ingin, mengabarkan
sesuatu padamu...”
Gadis itu berkata ingin
menceritakan sesuatu,
“Kabar apa ? hahaha,, kau
membuatku tegang..”
Aku berucap padanya,
“Dokter mengabarkan, kaki
kirimu patah dan harus segera diamputasi. Hal itu akan mengakibatkan kau cacat
Akmal...”
Gadis itu menceritakan
semuanya tanpa memperdulikan guyonanku.
“Benarkah, ini tidak
mungkin...”
Sontak saja aku terkejut
mendengar penjelasannya,
“Tenanglah Tuhan ada
bersamamu, besok kau akan segera diamputasi. Dan aku akan mendampingi mu besok,
yakinlah apa yang kita punya hanya titipan saja...”
Gadis itu mencoba
menguatkan dan meyakinkan ketidakpercayaan ku.
“Aku permisi dulu, masih
banyak tugas yang harus ku kerjakkan diluar sana”.
Kembali ia berpamitaan
padaku.
Jam demi jam telah berlalu, aku hanya teringat oleh perkataan
gadis itu. Dan aku berucap dalam hati, “apakah ini hukuman Tuhan untukku, yang
dulu selalu mengabaikan perintahnya”. Tapi pikiran itu ku tepiskan, ku ambil
novel gadis itu yang kusembunyikan dibawah bantal dan ku baca walau tak semua.
“Novel yang sangat
mengandung moral dan value yang sangatlah kuat, menyentuh serta penuh makna”.
Gumamku dalam hati.
Tak terasa lagi-lagi jam
sudah menunjukan 9.25 malam, saatnya aku beristirahat.
Sang surya kembali bersinar dan tak terasa ini adalah hari ke
3 aku dirawat. Gadis itu datang menemuiku sesuai janjinya yang ingin
mendampingiku untuk menghadapi operasi.
“Selamat pagi Akmal...”
Gadis itu menayapa pagiku
dengan senyuman,
“Terimakasih, gadis nan
indah...”
Aku menjawab sapaanya,
“Siapkah hari ini...”
Gadis itu menguatkan ku,
“Inshaallah aku siap,
karena aku percaya Tuhan selalu bersamaku...?”
Aku membalas ucapan gadis
itu.
Gadis
itu hanya tersenyum, kami saling bercerita tentang cita-cita. Ia menceritaakan
pada ku bahwa ia ingin menjadi wanita yang sempurna untuk suami dan anak-anak
yang Tuhan berikan padanya kelak. Hidup dalam kesederhanaan dan bahagia sampai
pada akhir nafas kehidupan. Dan ia juga bercerita bahwa ia ingin memiliki
pasangan sederhana tapi berhati mulia. Meskipun fisik tak sempurna.
Sungguh,
cita-cita gadis itu membuatku semakin sadar akan kebesaran Tuhan. Waktu telah
menunjukan bahwa aku akan segera di operasi, aku dilarikan keruangan khusus
pasien operasi dan didampingi oleh gadis baik hati itu.
“Bismillahirohmanirohim”,
Iya mendo’akan agar
kondisiku akan baik-baik saja.
Mungkin kurang lebih 2 jam dokter mengoperasi kakiku. Dan aku
mencoba untuk membuka mata yang terpejam akibat biusan sebelum operasi tadi.
Kini kaki kiriku benar-benar hilang dan cacat, ku pandangi seluruh sudut kamar
tak ku temui gadis itu. Mungkin ia sedang banyak kegiatan diluar sana.
Glekkk... pintu terbuka.
Aku terkejut, kupikir gadis
itu yang membuka pintu. Ternyata suster yang mengecek kondisiku.
“Tuan, ini sarapannya dan
ini obatnya...”
Suster itu menyapaku,
“Iya sama-sama sus, o iya
sus kemana gadis yang biasa menjengukku tiap pagi itu...?”
Aku bertanya pada suster,
“Ia hanya menitip pesan pak,
kalau dia sedang ada urusan....?”
Suster itu menjawab
pertanyaanku,
“Sus, siapa nama gadis
itu...?”
Aku kembali bertanya,
“Jihan, pak. Permisis dulu
tuan saya ingin mengecek keadaan pasien yang lain”.
Suster itu berpamitan
padaku.
Tak ku sangka gadis mulia dan baik hati itu bernama
Jihan, hari demi hari telah kulewati dan
ini sudah memasuki hari ke 7 itu artinya aku sudah satu minggu dirawat dirumah
sakit ini. Tapi aku merasa bingung, sudah hari ke 4 gadis itu tak menjenguk
kondisiku. Sontak saja membuat perasaan ku takkaruan, aku bertanya-tanya dalam
hati. Ditambah kegelisahanku yang mencuat, entah apakah yang sedang ku rasakan
saat ini. Sepertinya aku merasa jatuh cinta pada gadis yang bernama Jihan itu.
Tepatnya hari kelima, gadis itu datang menjengukku. Seperti
biasa ia menyapa pagi ku.
“Selamat pagi Akmal...?”
Dengan senyuman manisnya,
“Selamat pagi juga
Jihan...?”
Aku menjawab sapaan gadis
itu.
Dengan bingung gadis itu,
heran meliahat tingkahku yang mengetahui siapa namamanya. Tanpa pikir panjang
akupun memberanikan diri untuk berbicara agar aku bisa menjadi bagian hidupnya.
“Jihan, maafkan aku bila
aku lancang telah mengetahui namamu. Tapi ini bukan maksudku untuk mencari
kesempatan dalam kesempitan, kau hadir dalam setiap hariku menjagaku dalam
sakitku dan meyakinkanku tetntang arti kehidupan. Aku memang tak sempurna, tapi
dengarkanlah dulu isi hatiku. Aku tahu jawaban apa yang ingin kau ucapkkan
setelah ini. Tapi aku telah mencoba ikhlas dan kuat atas keputusanmu nanti.
Jihan apakah engkau mau menjadi pendampngku”.
Dengan perasaan takkaruan
aku mencoba mengutarakan isi hatiku.
Gadis bernama Jihan itu
hanya tersenyum dan menjawab pertanyaanku,
“Akmal, aku tidak melihatmu
pada tingakatan pangkat, harta, juga fisik yang kau miliki. Tapi aku melihatmu
pada keikhalasan serta kesabaranmu menghadapi ujian ini. Karena manusia tidak
ada yang tercipta sempurna, Akmal aku siap menjadi pendamping mu hingga akhir
hayat ku walau hanya dengan kesederhanaanku. Akmal maafkanlah aku bila aku
khilaf bersalah dengan ketidaksadaranku memperlakukan mu”.
Jihan mencoba menjelaskan
isi hatinya.
Aku merasa sangat bahagia karena masih ada wanita yang ingin
mendampingi sisa umurku ini.
Akhirnya, aku menikah dan
hidup bahagia dengan makhluk Tuhan yang mulia dan tulus mendampingiku. Walau
pekerjaanku tak seperti awal sebagai karyawan perusahaan swasta, aku hanyalah
seorang penulis yang bekerjasama dengan penerbit-penerbit terkenal. Yang
menghasilkan honor lumayan untuk bisa membahagiakan Jihan, istri yang amat ku
cinta.
Terimakasih Tuhan dari sini
aku belajar memahami arti kehidupan, bahwa seseorang tak perlu kaya atau pun
berfisik sempurna untuk mencapai kebahaagiaan.
JJJ
*** TAMAT ***
Original Post by :
Ade Riski