Senin, 06 Februari 2012

Cerpen



Gadis Berjilbab

Gadis itu seakan-akan hilang ditelan bumi. Yang ku rasa saat itu adalah tersungkur sakit, terpejam dan tak mampu untuk bangun. Yah, saat itu bus yang kutumpangi melaju kearah tempat kerjaku tapi ditengah perjalanan aku beserta penumpang lainnya terkena musibah. Bus yang ku tumpangi oleng dan menabrak pembatas jalan hingga akhirnya masuk kejurang. Aku adalah salah satu korban yang selamat dalam kecelakaan bus itu, tapi nasib naas belum berakhir aku harus menyandang cacat. Kaki kiri ku patah dan harus diamputasi, entah siapa yang saat itu menolong dan membawa ku kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.
Beberapa jam kemudian, aku mencoba membuka mata. Walau tubuh masih sakit dan nyeri. Aku terkejut karena disampingku ada seorang sosok yang sangat indah matanya, manis senyumannya. Aku bingung dan bertanya-tanya dalam hati, apakah ini nyata atau hanya mimpi belaka.
Malaikat ini sungguh berhati mulia, wajahnya mempesona dan kepalanya ditutupi jilbab yang membuatnya semakin sempurna. Aku memandangi wajahnya yang sedang asyik membaca novel, hingga akhirnya ia menoleh ke arah ku.
“Sudah sadarkah kamu...?”
Sapanya dengan senyuman dan nada suara yang ramah,
“Oh, iya. Siapa yang membawa ku kesini...?”
Aku menjawab sambil merintih kesakitaan,
“Tuhan mu lah yang membawamu kesini, istirahatlah dulu karena kondisimu belum stabil. Aku akan panggilkan suster untuk mengecek keadaan mu...?”
Dan lagi-lagi gadis itu menjawab dengan senyuman dan tutur kata yang ramah sambil pergi menjauh dariku,
“Tunggu dulu... siapa nama mu...?”
Aku bertanya pada gadis itu.

Gadis itu tak menjawab pertanyaan ku, ia hanya melemparkan senyuman dan pergi dari ruangan ku.
“Malaikat yang mempesona dan misterius”,
Gumamku dalam hati sambil tersenyum.
        Gleekk,... suara pintu terbuka.
“Permisi tuan, bisa saya cek dulu kodisinya...?”
Salah seorang suster menyapaku,
“Iya, sus silahkan masuk...?”
Aku mejawab sapaan suster itu.
Sambil mengecek kondisi ku, aku mencoba bertanya pada suster itu.
“Sus, siapa yang membawaku kesini dan kenapa aku bisa berada dirumah sakit ini...?”
Aku bertanya dengan wajah bingung,
“Gadis berjilbab tadi pak yang membawa anda kesini. Anda adalah korban kecelakaan bus yang anda tumpangi tadi pagi ”.
Suster itu mencoba menjelaskan,
“Siapa nama gadis itu sus...?”
Aku kembali bertanya,
“Gadis itu hanya berpesan pada kami pak, kalau dia hanyalah seoarang hamba Tuhan yang ingin menaburkan kebaikan. Baiklah sepertinya kondisi bapak sudah 75% membaik. Istirahatlah anda, ini obat dan makan malamnya. Permisi...”,
Suster itu mejelaskan sambil tersenyum, dan pergi meninggalkan ku yang sedang kebingungan.
        Aku mencoba bangun, dan melihat-lihat disampingku. Aku mendapati handphone, kucoba untuk meraih handphone yang berada dimeja dan akhirnya aku berhasil meraihnya.tapi sayang, handphone itu sisa bangkai. Yah, hancur tak berbentuk.
“Sialan, handphone mahal ternyata bisa rusak”.
Gumamku dalam hati, kesal.
Ku toleh lagi kemeja itu, dan kudapati buku yang dibaca oleh gadis misterius yang duduk disampingku tadi. Mungkin ia lupa menaruh buku itu, sehingga tertinggal dimeja ruanganku.
“kidung cinta pohon kurma”,
Aku membaca judul novel milik gadis misterius itu.
Ku lihat jam ternyata sudah menunjukan pukul 9 malam, mata terasa ngantuk dan tubuh masih terasa sakit. Mungkin karena reaksi obat yang diberi suster tadi sehingga aku pun terlelap dengan nyenyak.
        Malam telah berlalu dan sang surya kembali bersinar menyambut pagi, mata yang kelat ini mencoba memaksa bangun. Lantas saja lagi-lagi ku dapati gadis berjilbab itu duduk disampingku.
“Bagaimana keadaan mu...?”
Gadis itu menyambut pagi ku dengan sapaan yang halus dan lembut,
“Sudah lumayan membaik, bagaimana dengan keadaan mu...?”
Aku membalas sapaannya itu,
“Aku selalu dikaruniai keadaan yang baik-baik saja...”
Gadis itu kembali menjelaskan dengan singkat,
“Kenapa kamu tidak mau memberi tahu siapa nama mu...?”
Aku bertanya dengan dahi mengkerut,
“Kau tak perlu tau siapa nama ku, aku hanya ingin tahu siapa nama mu...?”
Jelas gadis itu,
“Nama ku Akmal, kenapa aku tak perlu tahu siapa namamu...?”
Aku kembali bertanya sembari untuk mencoba bangun dari kasur,
“Tidak, kau akan mengerti nanti. Kedatanganku pagi ini hanya ingin melihat keadaan mu dan mencari apakah novel ku tertinggal disini...?”
Gadis itu menjawab,
 “Aku tak tahu, novel mu yang mana...?”
Aku mencoba mebohonginya, karena novelnya sengaja ku sembunyikan agar ia mau memberitahu siapa namanya,
“Novelku yang berjudul Kidung Cinta Pohon Kurma. Tapi tak apalah mungkin aku lupa menaruhnya dimana. Baiklah aku ingin keluar dulu mencarikan mu sarapan”.
Gadis itu meninggalkan ku.
        Hatiku hanya merasa bahagia, karena Tuhan amatlah baik telah menurunkan malaikat yang mulia dan mempesona. Senyumannya dan matanya tak dapat ku lupakan walau pun ia adalah sosok yang misterius.
“Ini sarapannya, dimakan dulu...”
Ia mengejutkan lamunanku,
“Yah, terimakasih. Kau makhluk Tuhan yang indah...”
Aku mencoba merayunya, namun tak ditanggapi olehnya.
“Aku ingin, mengabarkan sesuatu padamu...”
Gadis itu berkata ingin menceritakan sesuatu,
“Kabar apa ? hahaha,, kau membuatku tegang..”
Aku berucap padanya,
“Dokter mengabarkan, kaki kirimu patah dan harus segera diamputasi. Hal itu akan mengakibatkan kau cacat Akmal...”
Gadis itu menceritakan semuanya tanpa memperdulikan guyonanku.
“Benarkah, ini tidak mungkin...”
Sontak saja aku terkejut mendengar penjelasannya,
“Tenanglah Tuhan ada bersamamu, besok kau akan segera diamputasi. Dan aku akan mendampingi mu besok, yakinlah apa yang kita punya hanya titipan saja...”
Gadis itu mencoba menguatkan dan meyakinkan ketidakpercayaan ku.
“Aku permisi dulu, masih banyak tugas yang harus ku kerjakkan diluar sana”.
Kembali ia berpamitaan padaku.
        Jam demi jam telah berlalu, aku hanya teringat oleh perkataan gadis itu. Dan aku berucap dalam hati, “apakah ini hukuman Tuhan untukku, yang dulu selalu mengabaikan perintahnya”. Tapi pikiran itu ku tepiskan, ku ambil novel gadis itu yang kusembunyikan dibawah bantal dan ku baca walau tak semua.
“Novel yang sangat mengandung moral dan value yang sangatlah kuat, menyentuh serta penuh makna”.
Gumamku dalam hati.
Tak terasa lagi-lagi jam sudah menunjukan 9.25 malam, saatnya aku beristirahat.
        Sang surya kembali bersinar dan tak terasa ini adalah hari ke 3 aku dirawat. Gadis itu datang menemuiku sesuai janjinya yang ingin mendampingiku untuk menghadapi operasi.
“Selamat pagi Akmal...”
Gadis itu menayapa pagiku dengan senyuman,
“Terimakasih, gadis nan indah...”
Aku menjawab sapaanya,
“Siapkah hari ini...”
Gadis itu menguatkan ku,
“Inshaallah aku siap, karena aku percaya Tuhan selalu bersamaku...?”
Aku membalas ucapan gadis itu.
Gadis itu hanya tersenyum, kami saling bercerita tentang cita-cita. Ia menceritaakan pada ku bahwa ia ingin menjadi wanita yang sempurna untuk suami dan anak-anak yang Tuhan berikan padanya kelak. Hidup dalam kesederhanaan dan bahagia sampai pada akhir nafas kehidupan. Dan ia juga bercerita bahwa ia ingin memiliki pasangan sederhana tapi berhati mulia. Meskipun fisik tak sempurna.
Sungguh, cita-cita gadis itu membuatku semakin sadar akan kebesaran Tuhan. Waktu telah menunjukan bahwa aku akan segera di operasi, aku dilarikan keruangan khusus pasien operasi dan didampingi oleh gadis baik hati itu.
“Bismillahirohmanirohim”,
Iya mendo’akan agar kondisiku akan baik-baik saja.
        Mungkin kurang lebih 2 jam dokter mengoperasi kakiku. Dan aku mencoba untuk membuka mata yang terpejam akibat biusan sebelum operasi tadi. Kini kaki kiriku benar-benar hilang dan cacat, ku pandangi seluruh sudut kamar tak ku temui gadis itu. Mungkin ia sedang banyak kegiatan diluar sana.
Glekkk... pintu terbuka.
Aku terkejut, kupikir gadis itu yang membuka pintu. Ternyata suster yang mengecek kondisiku.
“Tuan, ini sarapannya dan ini obatnya...”
Suster itu menyapaku,
“Iya sama-sama sus, o iya sus kemana gadis yang biasa menjengukku tiap pagi itu...?”
Aku bertanya pada suster,
“Ia hanya menitip pesan pak, kalau dia sedang ada urusan....?”
Suster itu menjawab pertanyaanku,
“Sus, siapa nama gadis itu...?”
Aku kembali bertanya,
“Jihan, pak. Permisis dulu tuan saya ingin mengecek keadaan pasien yang lain”.
Suster itu berpamitan padaku.
        Tak ku sangka gadis mulia dan baik hati itu bernama Jihan,  hari demi hari telah kulewati dan ini sudah memasuki hari ke 7 itu artinya aku sudah satu minggu dirawat dirumah sakit ini. Tapi aku merasa bingung, sudah hari ke 4 gadis itu tak menjenguk kondisiku. Sontak saja membuat perasaan ku takkaruan, aku bertanya-tanya dalam hati. Ditambah kegelisahanku yang mencuat, entah apakah yang sedang ku rasakan saat ini. Sepertinya aku merasa jatuh cinta pada gadis yang bernama Jihan itu.
        Tepatnya hari kelima, gadis itu datang menjengukku. Seperti biasa ia menyapa pagi ku.
“Selamat pagi Akmal...?”
Dengan senyuman manisnya,
“Selamat pagi juga Jihan...?”
Aku menjawab sapaan gadis itu.
Dengan bingung gadis itu, heran meliahat tingkahku yang mengetahui siapa namamanya. Tanpa pikir panjang akupun memberanikan diri untuk berbicara agar aku bisa menjadi bagian hidupnya.
“Jihan, maafkan aku bila aku lancang telah mengetahui namamu. Tapi ini bukan maksudku untuk mencari kesempatan dalam kesempitan, kau hadir dalam setiap hariku menjagaku dalam sakitku dan meyakinkanku tetntang arti kehidupan. Aku memang tak sempurna, tapi dengarkanlah dulu isi hatiku. Aku tahu jawaban apa yang ingin kau ucapkkan setelah ini. Tapi aku telah mencoba ikhlas dan kuat atas keputusanmu nanti. Jihan apakah engkau mau menjadi pendampngku”.
Dengan perasaan takkaruan aku mencoba mengutarakan isi hatiku.
Gadis bernama Jihan itu hanya tersenyum dan menjawab pertanyaanku,

“Akmal, aku tidak melihatmu pada tingakatan pangkat, harta, juga fisik yang kau miliki. Tapi aku melihatmu pada keikhalasan serta kesabaranmu menghadapi ujian ini. Karena manusia tidak ada yang tercipta sempurna, Akmal aku siap menjadi pendamping mu hingga akhir hayat ku walau hanya dengan kesederhanaanku. Akmal maafkanlah aku bila aku khilaf bersalah dengan ketidaksadaranku memperlakukan mu”.
Jihan mencoba menjelaskan isi hatinya.
        Aku merasa sangat bahagia karena masih ada wanita yang ingin mendampingi sisa umurku ini.

Akhirnya, aku menikah dan hidup bahagia dengan makhluk Tuhan yang mulia dan tulus mendampingiku. Walau pekerjaanku tak seperti awal sebagai karyawan perusahaan swasta, aku hanyalah seorang penulis yang bekerjasama dengan penerbit-penerbit terkenal. Yang menghasilkan honor lumayan untuk bisa membahagiakan Jihan, istri yang amat ku cinta.
Terimakasih Tuhan dari sini aku belajar memahami arti kehidupan, bahwa seseorang tak perlu kaya atau pun berfisik sempurna untuk mencapai kebahaagiaan.
JJJ
*** TAMAT ***

Original Post by :
Ade Riski